Tuesday, November 11, 2014

FF EXO - Sad Ending Part 1


Tittle                : I BELONG TO YOU
Author             : Vien Yari (@Cloud139488), www.vienyari.blogspot.com
Main Cast        : Oh Hyeorin, Kim Jong Dae (Chen EXO)
Other Cast     : All EXO members, Oh Hyeojin, Do Seung Soo, Mr. Lee Soo Man, Lee Seung Hwan (Man. EXO K), Im Hyun Kyun (Man. EXO M), dll. ☻
Genre              : Romance, Comedy, Angst, Sad Ending
Length             : Parts J
Rating             : Teen (PG 15 + J)
Disclaimer       : This story is mine. Made by me. From my own imagination. No copy, no bashing. DON’T BE A PLAGIAT !!! J Algesheo ??!!! :) ~~~ BPT ♀    
I BELONG TO YOU – PART 1
Salju yang masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tetapi hanya berbeda tempat untuk menikmatinya saja. Pagi hari yang sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Hanya berbeda tempat untuk merasakannya saja.
Author POV
Hyeorin melihat ke samping kirinya, dan terpajang jelas kantong infus dengan selang yang menancap ke tangan kirinya. Sudah 2 minggu lamanya ia menjadi rawatan di Wooridul Spine Hospital Lt. 20 Kamar A-1, Seoul. Hyeorin hanya bisa menghela napas panjang, dan kembali melihat butiran salju yang turun di langit Seoul untuk pertama kalinya ketika musim dingin datang tahun ini. Terlukis senyum kecil di sudut bibirnya, diikuti oleh butiran air mata yang seketika melinangi pipinya. Sesekali ia membersihkan rontokan rambut di pundaknya, yang jatuh dari kepala ber-beanienya.
Seketika itu pula terdengar pintu kamar rawatnya dibuka. Dari langkah kakinya sudah dapat ditebak siapa dia. Maka Hyeorin pun tidak menolehkan wajahnya, tetapi ia segera mengusap air matanya.
“Bukankah kau seharusnya istirahat ?” tanya Ibu Hyeorin sambil meletakkan tas tanpa mengambil tempat untuk duduk.
“Eomma, lihatlah ! Mereka jatuh dengan indah sekali.” Hyeorin menunjuk salju diluar sana, berusaha mengalihkan pembicaraan tanpa memandang ibunya.
“Kembalilah ke ranjangmu, dan istirahat !”
Ia mendengus kesal demi mendengar perintah ibunya. “Daripada aku tidur, lebih baik aku melihat pemandangan seperti ini eomma. Karena saat ini aku hanya membutuhkan healing. Biar aku tenang. Aku tidak membutuhkan perawatan seperti ini. Semuanya akan sia-sia.”
“Hyaaa! Eomma sudah lelah. Kau tahu bagaimana sibuknya eomma ini, kan ? Jadi jangan membuat eomma memarahimu karena sikap keras kepalamu itu. Cepat istirahat !”
“Eomma ! Jika eomma bilang eomma lelah karena kesibukan yang tidak karuan, lalu apa eomma pernah tahu kalau Hyeorin juga lelah ?”
“Apa yang kau bicarakan ?! Cepatlah istirahat !”
“Eomma, apa eomma memang tidak mau mendengarkanku ?  Eomma tidak pernah mau menghiraukan aku, pendapatku. Mengaturku semau eomma. Mungkin tidak seharusnya 9 tahun lalu aku ikut kalian ke Seoul.”
Ia menghela napas panjang. Terlihat jelas raut kesal di wajahnya akibat perkataan Hyeorin. “Hyaa ! Hyeorina ! Daripada kau mengatakan hal yang tidak-tidak, lebih baik kau pikirkan bagaimana caramu untuk memenuhi permintaan appamu. Permintaan yang sudah menjadi harapan baginya sejak kau kecil.”
“Harapan yang mana ? Menikah ?”
“Hyeorin ! Apa kau tidak bisa sedikit serius dengan permintaan mendiang ayahmu ?”
“Lalu apa gunanya Hyeorin menikah eomma ?”
“Setidaknya kau bisa memenuhi permintaan terakhir ayahmu, kan ? Ia ingin sekali melihatmu menikah sebelum ia meninggal. Tapi, lihatlah sekarang ! Karena ulahmu itu, sampai ayahmu meninggal, kau tidak bisa memenuhi permintaannya. Padahal itu permintaan terakhirnya Hyeorin. Sekarang kau masih punya waktu, jadi lakukanlah. Lakukan sebagai pengabdian terakhir dari seorang anak kepada ayahnya.”
“Eomma, jika Hyeorin menikah, apakah itu tidak terlalu egois ? Hyeorin sudah berulang kali divonis eomma. 1 tahun, 6 bulan, dan yang terakhir 2 bulan mulai sekarang. Jika sekarang Hyeorin menikah, lalu bagaimana nasib suamiku setelah 2 bulan nanti ? Aku sudah tidak akan mungkin selamat. Jika aku menikah, maka semuanya hanya akan menjadi lelucon.”
Ibu Hyeorin menghela napas demi menahan air matanya. “Ini juga salahmu ! Seandainya sejak 2 tahun lalu, ketika ayahmu masih hidup kau sudah menikah, hal sulit seperti ini tidak akan terjadi. Kita tidak akan merasa bersalah kepada mendiang ayahmu.”
“Disaat itupun aku sudah divonis dengan penyakit ini eomma. Sama saja.”
“Tapi paling tidak saat itu waktumu masih panjang, kan ? Tapi apa yang kau lakukan, apa yang kau katakan ?! Kau malah bilang kalau kau tidak ingin menikah. Kau mengatakan di depan ayahmu bahwa kau masih menunggu seseorang yang kau sukai di sekolah lamamu sebelum kau pindah ke Seoul. Seseorang yang kau sendiri tidak tahu dia ada dimana saat itu, kau tidak tahu apakah dia masih menyukaimu atau tidak. Bahkan kau mengatakan bahwa kau tidak yakin apakah dia masih mengenalimu atau tidak. Dan kau ingat,..”
Ibu Hyeorin menghentikan kalimatnya. Ia berusaha sekuat mungkin menahan air matanya agar tidak jatuh. Air mata yang sejak ia datang telah menggantung di pelupuk matanya setelah melihat kondisi putrinya yang semakin menyedihkan. Ia sejenak memandang ke langit-langit seraya menelan ludah, lalu melanjutkan kalimatnya dengan pelan dan sedikit menekan. “Kau ingat Hyeorin, malam harinya setelah kau mengatakan hal itu ayahmu meninggal Hyeorin !!!!”
“Jadi eomma menyalahkan Jong Dae oppa ?” tanya Hyeorin, lalu ia menoleh dan memandang ibunya dengan alis yang berkerut.
“Hyaa, kkemanera ! Jangan memanggilnya seperti itu. Membuatku bertambah gila, kau tahu itu ?! Kau tidak pantas menunggunya lagi. Dia sudah meninggalkanmu ! Dia sudah melupakanmu ! Dia tidak akan pernah mengenalimu lagi! Sekarang lihatlah ! Bukalah matamu ! Semua orang mengenalinya, dia bukan lagi orang biasa sekarang. Dia sudah menjadi bintang. Dengan begitu, apa kau pikir ia masih mengenalimu yang bukan siapa-siapa ini, ha ?!”
“Eomma, oppa tidak meninggalkanku. Tapi akulah yang meninggalkannya. Dan itu semua karena salah kalian, appa dan eomma memaksaku ikut pindah ke Seoul tanpa bisa mengatakan apapun kepadanya, meski hanya untuk kata perpisahan.”
“Hyaa! Lalu apa kau pikir dia merasa kehilangan atas kepergianmu yang mendadak itu ? apa kau pikir jika kau masih bersamanya sampai sekarang, ia akan tetap menganggapmu ketika ia sudah menjadi bintang seperti saat ini ?”
“Ne eomma. Gereoji. Aku yakin. Karena ia mencintaiku dan akupun begitu.”
“Kkemane, Hyeorin ! Jebal ! Hal seperti itu terjadi 9 tahun lalu, saat kalian masih kecil. Tidak mungkin sekarang masih terjadi. Kalian sekarang berbeda. Ia tidak akan mengenalimu lagi. Kalaupun benar bahwa dulu dia mencintaimu, sekarang tidak mungkin ia masih mencintaimu. Kau tahu itu ? Apa gunanya kau menunggu orang itu Hyeorina ? Wae ?!”
Hyeorin menatap mata ibunya dengan nanar. Alisnya mulai berkerut, kedua matanya mulai memerah, tangannya menggenggam erat. Ia menggigit bibirnya demi menahan air matanya agar tidak jatuh. Namun beberapa detik kemudian, ia terisak dan air matanya mengaliri pipinya kembali.
“Nan,…nan Jong Dae oppa-reul,..saranghamnida eomma !” ia berkata di depan ibunya seperti memohon sesuatu, seperti menekankan sesuatu. Kemudian ia kembali menghadap jendela sembari mengusap air matanya.
Melihat hal itu, air mata Ibu Hyeorin berjatuhan, ia tak mampu menahannya lagi. “Hyaa, Hyeorina, neo ara ? Karena sesuatu yang kau sebut cinta itu, kau hampir saja kehilangan nyawamu ! Jika tidak karena keinginanmu melihat konser Jong Dae bersama grupnya itu, kau tidak akan mengalami kecelakaan parah seperti kemarin.”
“Itu bukan masalah besar eomma. Itu bukan salah Jong Dae oppa.”
“Bagaimana mungkin bukan masalah besar ? Kau menderita luka parah di kepalamu. Kau kehilangan banyak darah. Kau hampir kehilangan nyawamu jika adikmu tidak segera pulang dari China lalu mendonorkan darahnya. Apa kau tidak tahu betapa takutnya eomma saat itu, ha?
“Karena semua itu, tim dokter semakin angkat tangan terhadap penyakitmu. Rencana  operasi yang 3 bulan lalu katanya masih mungkin dilakukan menjadi tidak mungkin karena kecelakaan itu. Semua itu menyebabkanmu harus terbaring di sini selama 2 bulan terakhirmu. Dan, ketika keadaanmu seperti ini, apakah Jong Dae menjengukmu ? Tidak kan ? Lalu kenapa kau masih menunggunya ?”
“Eomma, oppa tidak menjengukku karena ia tidak tahu bahwa keadaanku sekarang seperti ini.”
“Hyaa, Oh Hyeorin ! Meskipun ia tahu, apa kau pikir ia akan menjengukmu ?”
“Mengingat kesibukan oppa saat ini, maka sampai matipun aku tidak ingin ia mengetahui keadaanku yang sekarang eomma.”
“Apa ?” Ibu Hyeorin semakin terisak, menggelengkan kepalanya seraya mendekati putrinya yang sedari tadi masih duduk di kursi rodanya, menatap keluar jendela. Ibu Hyeorin mendekatkan wajahnya ke wajah putrinya, walaupun putrinya terus memandang jauh ke depan, tidak menoleh sedikitpun.
Meski begitu, dari samping ia masih bisa melihat kedua mata putrinya yang dipenuhi peluh air mata. Mata Hyeorin memerah, tetapi Hyeorin tetap berusaha agar air matanya tidak jatuh. Dengan pelan dan menghentikan isakannya,  ia bertanya “Hyeorina, hajima. Neo micheoso ?”
“Ne eomma. Nan micheoso.” Hyeorin langsung menjawabnya, iapun menangis lagi dengan tatapan mata tetap lurus ke depan, tanpa melihat ke arah ibunya.
Melihat putrinya menangis, ia merasa kesal, marah, tetapi juga tidak tega. Karena, putrinya sudah menjelma menjadi orang yang tidak memiliki semangat hidup lagi. Ingin sekali ia memeluk putrinya lalu menenangkannya, atau menyeret orang yang bernama Jong Dae itu ke hadapan putrinya. Namun ia tidak mampu melakukannya. Ia juga tidak mampu melihat putrinya yang amat menyedihkan saat ini.
Ia pun langsung meninggalkan putrinya sambil menangis.
Sedangkan Hyeojin, putri keduanya, masuk ke kamar rawat kakaknya. Hyeojin pun bingung  melihat ibu dan kakaknya menangis. Hyeojin ingin bertanya pada ibunya kenapa ia menangis, tapi ia tak sanggup.
*****
Author POV
Ibunya keluar sambil memandangnya dan memberikan semacam kode kepada Hyeojin untuk menenangkan kakaknya, menggantikan dirinya.
Ia pun hanya bisa tersenyum, lalu menepuk pundak ibunya. Kemudian ia menghampiri kakaknya yang masih menangis. Dan kali ini tangisan kakaknya tidak tanggung-tanggung lagi. Isakkan kakaknya begitu kencang dan memilukan, membuat hatinya sesak. Ia memang seperti memiliki ikatan batin yang kuat dengan kakaknya, meskipun mereka bukan saudara kembar. Bahkan yang membuatnya pulang dari China kemarin saat kakaknya kecelakaan bukanlah telpon dari ibunya, melainkan perasaan dan pikirannya yang tidak enak mengenai kakaknya.
Setelah menutup pintu, ia mendekati kakaknya yang tengah  menangis sambil memegang erat dadanya.
“Eonni, wae geuraeyo ?” ia bertanya sambil memeluk kakaknya dari belakang.
Namun Hyeorin mengabaikannya, ia masih terus menangis, masih tetap terisak.
“Eonniya, wae geuraeyo ?” ia bertanya sambil berlutut di samping kursi roda, tempat kakaknya duduk.
Setelah menunggu beberapa saat, Hyeorinpun menjawab pertanyaan adiknya.
“Aniya. Gweanchana.” Hyeorinpun menjawab adiknya sambil mengusap air matanya.
Gotjimal. Jika tidak ada apa-apa, lalu kenapa Madam X menangis. Kau juga. Tangisanmu keterlaluan. Hatiku ikut sakit melihatnya, meskipun aku tidak tahu alasannya. Aku baru dua kali ini melihatnya. Bahkan ketika appa meninggal, tangisanmu tidak sampai seperti ini.
Hyeojin adalah gadis yang cukup nakal. Tetapi ia sangat menyayangi keluarganya, terlebih kakaknya. Ia juga tergolong anak yang cerdas tetapi sangat malas. Namun, setelah mengetahui kakaknya divonis kanker otak 3 tahun yang lalu, ia yang semula pemalas ajaib berubah menjadi anak yang sangat rajin. Ia tidak pernah lagi menyia-nyiakan waktunya untuk belajar. Sampai akhirnya ia mampu lulus 1 tahun lebih awal dari SOPA, Seoul pada jurusan seni lukis. Ia lulus dengan nilai tertinggi dan langsung dilatih menjadi pelukis professional oleh salah satu agensi pencarian bakat di China. Selain itu, ia juga dikuliahkan di Peking University, Beijing untuk mendalami Seni Lukis oleh agensi tersebut.
Hingga akhirnya Hyeojin menjadi cukup terkenal dengan semua lukisannya. Tidak hanya di China dan Negara-negara lain, tetapi juga di negaranya sendiri. Iapun mendapatkan honor yang sangat fantastic untuk setiap lukisannya. Menurut kabar yang akhir-akhir ini dilansir, satu lukisannya hampir mencapai angka 5 juta won. Tetapi belum ada statement apapun dari pihak manajemen Hyeojin terkait berita heboh ini. Di samping itu, ia juga menjadi kepala rumah tangga utama sejak appanya meninggal 2 tahun lalu.
Selain sebagai pelukis, ia juga memiliki bakat broadcasting yang sangat bagus. Ia sempat mempelajarinya selama ia menjadi broadcaster di radio internal SOPA. Oleh karena itu, ia juga sering diminta sebagai Host di beberapa acara TV China. Ia juga pernah menginterview beberapa artis besar dari luar negeri. Termasuk dari negaranya sendiri.
Ia jarang ada di negaranya, apalagi di rumah semenjak ia direkrut oleh agensi China. Tetapi mengetahui penyakit kakaknya bertambah parah, kemarin ia pun meminta izin untuk masuk dalam agensi cabang yang ada di Seoul. Ia melakukannya demi menjaga kakaknya di detik-detik terakhir yang dimiliki oleh kakak tercintanya.
Dari kecil, ia dan kakaknya suka sekali menggoda orang lain. Mereka berdua sama-sama tidak menyukai sikap cerewet ibunya. Oleh karena itu, mereka punya panggilan sendiri untuk ibunya yaitu Madam X. Meski begitu, ia dan kakaknya tetap menyayangi ibu mereka.
“Gwaenchana, Yeojinie. Tidak ada apa-apa. Oh, kau bilang sudah dua kali aku menangis seperti ini ? Eonje?” tanya Hyeorin.
“Aaaa, yang kedua saat ini, yang pertama itu ketika kita akan pindah ke Seoul. Kau terisak-isak sampai tangan juga badanmu kaku dan dingin. Kau masih ingat ?”
“Jeongmal ?” dengan mata yang melebar.
“Ooo, bahkan sampai di Seoul pun kau tidak berhenti menangis. Kau tahu, appa saat itu sangat khawatir. Kau tidak mau makan 2 hari 2 malam. Hingga akhirnya kau pingsan dan menjadi rawatan di rumah sakit selama 1 minggu. Uch, paboya !”
“Waa, aku sudah lupa.” jawab Hyoerin dengan sedikit senyuman.
“Bagaimana mungkin kau ingat. Kau terlihat seperti orang amnesia saat itu. Sejak itu pula, kau berubah menjadi gadis yang membosankan. Kau seperti kehilangan semangat hidupmu. Kau sering melamun tanpa alasan. Dan kau juga tidak pernah berbagi cerita denganku lagi. Setiap kali aku bertanya, kau selalu bilang ‘gwaenchana’, hah, neo ara betapa aku ingin tahu masalahmu itu ? Aku yakin itu adalah masalah yang sangat besar. Ceritakan padaku eonniya. Jebal ! Biarkan aku membantumu , hm?!” Hyeojin berlutut pada kakaknya.
Suasana hening sesaat, tetapi Hyeojin tetap berlutut. Hyeorin hanya melihat dongsaengnya dengan tersenyum.
“Neo mwoya jigeum ? Ireonna !! Lebih baik kau membantuku pindah ke ranjang daripada melakukan hal bodoh seperti itu. Ppali. Aku lelah !”
“Eonni ?!” rajuk Hyeojin.
“Wae ?”
“Aku ingin membantumu !” ia memelas dan melihatkan aegyo di depan kakaknya.
“Hya, kau tidak imut sama sekali ! Cepatlah, bantu aku pindah !”
Ia mem-pout-kan bibirnya. Ia kesal pada kakaknya. Tapi ia juga tahu bahwa kakaknya lelah. Maka iapun membantu kakaknya. Setelah kakaknya berbaring, iapun kembali memohon kepada kakaknya.
“Gereu. Aku akan cerita padamu.”
“Chinca ?” ia membuka mata sipitnya selebar lebarnya. Dengan riang, iapun segera duduk di samping ranjang kakaknya.
“Belikan aku salad buah dulu. Ppali. Aku lapar.”
“Eonni !!” ia mengerutkan alisnya.
“Ppaliwa!!!”
Ia menggigit bibirnya.“Noe, nan biwoyo eonni.” bentaknya sambil mengambil dompet di tasnya lalu pergi meninggalkan kakaknya.
“Geundae, sarangheyo Yoejinie !” balas Hyeorin sambil tertawa kecil.
*****
@ SM ENTERTAINMENT
Author POV
“Hyaaa, Chena, jeongmaleyo ?” tanya Chanyeol pada Chen yang masih sibuk dengan ponselnya sejak turun dari mobil setelah pulang dari acara Beatles Code.
“Mworago ?” ia membalasnya tetapi langsung meninggalkan Chanyeol ke kamarnya.
Meski mendahului, Chen masih mendengar panggilan Chanyeol. Namun ia tak ingin menghiraukannya saat ini. Ia sangat lelah. Ia semakin mempercepat langkahnya menuju kamar dormnya.
Ketika membuka kamarnya, ia melihat Lay yang tengah berlatih dance. Ia memakai celana jeans pendek dan kaos biru yang dibelikannya. Lay terlihat cool dengan topi yang dipakainya, namun ketika harus melihat ke bawah, Lay membuat orang tertawa. Bagaimana mungkin tampilan sekeren itu ditambah dengan kaos kaki pink yang dibelikan olehnya ?
“Waeyo Chena ? Kenapa tertawa ? Apa danceku jelek ?” tanya Lay.
“Aniya Hyung. Geunyang, ada apa dengan kaos kakimu ?” Chen tertawa lalu meninggalkan Lay yang memandang kaos kakinya dengan wajah linglung.
Ketika Chen sedang berada di kamar mandi, terdengar suara berlarian dari luar kamar. Suara music dari ponsel Lay yang tidak terlalu keras, membuat Chen mendengar langkah kaki itu dengan jelas.
Kreek. Braakkk.
“Hya, Chena, jongmaleyo ?” Baekhyun dengan riangnya, dengan mata sipit yang membelalak membuka pintu kamar Chen dan Lay.
“Aish, Kkamjagiya ! Noe mwoya, Baekhyuna ?!” Lay terkejut dan segera menghentikan music di ponselnya.
“Ani hyung, Chen eodiyo ?”
Tidak lama kemudian, Chanyeol pun datang dengan tidak kalah hebohnya dari Baekhyun.
Lay terkejut sekali lagi.
“Hyaaa!!! Noe ! noe mwoya ? Wae gereoyo ? Hoh ?”
Chanyeol membalasnya dengan senyum lebar dan wajah innocentnya. Tidak lama kemudian, Chen keluar dari kamar mandi. Ia masih mengelap rambutnya dengan handuk. Lalu, Baekhyun dan Chanyeol saling mendahului menghampiri Chen tanpa menghiraukan Lay yang hampir jatuh karena ditabrak mereka.
Chen, member China yang juga akrab dipanggil Jong Dae (nama asli), yang sekarang juga tengah kebingungan dengan tingkah Chanyeol dan Baekhyun akhirnya bertanya.
“Hyaaa, Beagle line. Wae gereoyo ? Hoh ?”
“Noe chinchayo ? Jongmaleyo ?” tanya Baekhyun.
“Mworago ?” Chen semakin bingung.
“Aish. Noe kka!! Kau terlalu berbelit-belit.” Chanyeol maju satu langkah di depan Baekhyun. “Hya, Chena, Mangdungeo nuguseyo ?? ”
Chen tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut dari wajahnya. Ia mengalihkan pandangan dari dua perusak parah ini ke mata Lay. Namun, mata Lay yang selalu terlihat mengantuk itu membuatnya tambah bingung. Lay juga tidak kalah bingungnya, karena dari tadi ia tidak tahu apa-apa.
Suasana hening selama beberapa detik lamanya. Hanya dihiasi oleh kedipan mata dua perusak utama di EXO yang mengharap jawaban dari Chen.
“Aish. Ini terlalu lama. Chena, ppaliwa ! Jawab kita. Atau aku katakan pada member lain.” Baekhyun membalikkan badannya.
“Andwae. Hajima !”
“Gereu. Gendeu, katakan. Mangdungeo nuguseyo ?” tanya Baekhyun dengan ekspresi sedikit mengejek dihias dengan wajah imutnya.
“Hyaa, un--untuk apa kalian tahu ? Hah ?” tanyanya agak gugup.
“Kurae,…” Baekhyun tersenyum sinis dan membalikkan badannya sekali lagi. Ia berniat keluar dari kamar itu.
“Changkamaneyo !” Chen menarik tangan Baekhyun. “Jangan katakan ke member lainnya, belum saatnya mereka semua tahu.”
“Mworago ? Hyaa, apa kau lupa ? Kau sendiri yang mengatakannya di acara tadi. Di hadapan member lainnya. Di hadapan MC. Di hadapan penonton. Jong Daeya, hya chinca noe chemitta. Sekarang kau minta kami tidak boleh bilang. Semua sudah tahu lah pastinya !” sahut Chanyeoul seraya tertawa lebar.
Chen hanya membalasnya dengan dengusan kesal. “Kalian pasti sudah menggunakan mulut lebar kalian untuk mengatakan hal ini kepada yang lain.”
“Ani. Kami belum menyebarkan. Kami hanya memberitahu mereka dengan pelan-pelan.” Baekhyun membela diri. “Cepat katakan ! Nuguji ?!”
“Huft, matta. Aku memang tidak akan bisa menyimpan rahasia di sekitar orang-orang seperti kalian.” Ia berjalan menuju ranjangnya, lalu mengambil dompet di celananya dan dengan sedikit terpaksa ia memberikan sebuah foto kepada Baekhyun.
“Ige mwoya ? Ige nuguya ?” Baekhyun mengomel sendiri sambil melihat foto itu.
“Hya, bukannya kau ingin tahu siapa itu Mangdungeo. Foto itu adalah gadis yang ingin kau tanyakan padaku.”
“Mwo ? Chincayo ? Whaaaaaaa, yeppuda ! Jeongmal, hyaa Chanyeola, Hyung, lihat ini !” celoteh Baekhyun sambil menunjukkan foto itu kepada Chanyeol dan Lay.
“Otte Chanyeola ?  Hyung ?”
“Whaaa, yeppuda !” sahut Chanyeol.
“Hya, Chena, nuguji ?” tanya  Lay linglung.
“Aish, kkaepsong ! Hyung kau ini benar-benar pelupa akut ! Kan kami tadi bertanya tentang siapa itu Mangdungeo, nah berarti foto ini adalah Mangdungeo. Hyunga, jebal !” sahut Baekhyun kesal.
“Aniya, Baekhyuna. Geunyang, nan jeongmal mollaseo. Sama sekali. Padahal aku sekamar dengannya. Tapi kenapa kalian tahu lebih dulu ?”
“Hyung, mereka tahu karena aku tadi bercerita tentang gadis itu di acara talkshow. Dan Chanyeol ikut. Itulah kenapa Baekhyun tahu. Inipun pertama kalinya mereka tahu.” Chen menjelaskan.
“Ahh, Gereoyo ? Kereom, nuguji ?” tanya Lay lagi.
“Ah, matta. Nuguji ? Yeoja chingu ?!” Chanyeol menambahi.
“Seolma. Andwae, Chanyeola. Choltte andwae. Jika iya, lalu bagaimana adik Kyung Soo ? Seung Soo sangat menyukai Jong Dae, kau tahu kan ? Setahuku mereka juga sudah pernah jalan bersama. Gereoji, Jong Daeya ?” Baekhyun semakin membuat Chen tidak bisa menjawab.
Chen terdiam lagi. Kedua bibirnya saling mengunci satu sama lain. Matanya melirik kesana kemari. Seperti mencari sesuatu yang mungkin bisa menyelamatkannya. Ketiga orang yang ada di  depan Chen juga tidak kalah diamnya. Mereka menantikan jawaban dari Chen. Dan tiba-tiba,..
Ceklik. Kreeek.
“Hya, noe mwoya ? Kenapa tidak tidur. Besok ada latihan pagi. Ppali chalja ! Baekhyuna, Chanyeola, kka !!” sang leader EXO K masuk untuk memeriksa anggotanya.
Chen bernapas lega. “Ah, matta. Neo ara ? Besok kita ada latihan pagi. Kita punya jadwal yang padat selama 3 bulan ke depan, alchi ? Kkereom, kka ! Chalja !” sahut Chen sambil mendorong kedua perusak itu keluar.
“Hya, hyung. Kau mengganggu saja. Hya, Chena ! Aku akan membeberkannya jika kau tidak mau cerita.” ancam Baekhyun dengan menunjuk Chen menggunakan telunjuknya..
“Katakan saja. Lagipula semua orang akan tahu tanpa mereka harus mendengarkan mulut lebarmu itu. Ppali kka !!!” ia mendorong Chanyeol dan Baekhyun menuju pintu. “Hyung, gomawo !” imbuhnya kepada Suho yang bingung saat itu. Lalu, Chen menutup pintunya dan menuju ranjangnya.
Lay mengikuti Chen dan bertanya “Hyaaa! Chena. Nuguji ?”
Chen menutup wajahnya dengan bantal dan memunggungi hyungnya.
“Hya, kau tidak sopan sekali. Ppaliwa. Siapa gadis itu ?”
Chen membuka bantalnya dan menjawab. “Mungkin besok hal ini akan menjadi gosip tak karuan. Besok hyung juga akan tahu.” jawabnya pasrah.
“Dia kekasihmu ?” tanya Lay penasaran.
“Sekarang mungkin,…sudah tidak.”
Jawaban Chen menjadi penutup pembicaraan mereka berdua malam itu. Karena Chen tertidur setelahnya. Sedangkan Lay yang punya hobi tidur segera menyusul Chen, meskipun ia belum terpuaskan oleh jawaban Chen.
*****
@ HOSPITAL
Hyeorin POV
Sedari tadi, sejak pagi tadi aku menghias kalender yang hanya berisi dengan tanggal-tanggal selama 2 bulan terakhir. Yaitu bulan November sampai Desember. Kutambahkan icon “kyeo” favoritku di beberapa sudut kalender itu. Dengan sekali-kali meminum air putih tanpa memakan makanan yang disediakan oleh rumah sakit.
Di saat itu, ibuku datang.
“Uuu, eomma. Wae gereoyo ? eomma tidak ke kantor ?” tanyaku.
“Tidak. Eomma ingin istirahat dulu. Kenapa ini tidak kau makan ? Lihatlah tubuhmu itu, kurus sekali. Ppali moekko.” tanya Ibu.
“Shireo eomma ! Makanannya tidak enak. Lagipula Hyeorin sudah kenyang dengan obat-obatan itu. Jadi tanpa makananpun Hyeorin akan tetap hidup.” aku menjawab ibu tanpa mengalihkan pandanganku dari kalender yang kuhias.
“Hya ! Hyeorina !”
“Mianhae eomma. Tapi, Hyeorin lelah. Katakan saja kalau Hyeorin bisa bertahan hidup selama 2 bulan ini karena bantuan obat-obat menyakitkan itu kan ? Tanpa mereka mungkin sekarang Hyeorin akan mati. Iya kan ?’’ jawabku sambil menatap ibuku.
“Hya. Kkemanera. Hajima, Hyeorina !”
Author POV
Ibu Hyeorin sepertinya mulai lemah. Karena sejak kecelakaan yang menimpa Hyeorin 2 minggu lalu, ia menjadi semakin rapuh. Ia menjadi orang yang sangat mudah menangis, apalagi jika mengenai Hyeorin. Termasuk pagi ini. Mungkin ini sudah keseribu kalinya ibu Hyeorin menangis karena putri pertamanya.
Hyeorin POV
“Eomma. Uljimayo. Hajima. Tidak ada gunanya.”
Ibuku hanya menundukkan kepalanya.
“Eomma. Mianhae. Tapi kenyataannya waktu Hyeorin hanya tinggal 2 bulan lagi. Jadi, biarkan Hyeorin melakukan apa yang ingin Hyeorin lakukan. Meminta apa yang ingin Hyeorin minta. Membayangkan apa yang ingin Hyeorin bayangkan. Melihat apa yang ingin Hyeorin lihat. Mengatakan apa yang ingin Hyeorin katakan. Karena hanya itulah keinginan Hyeorin sebelum Hyeorin pergi eomma.”
“Hyeorina. Apa kau tahu ? Waktumu mungkin masih bisa bertambah lama jika saat itu kau tidak meninggalkan rumah sakit, dan juga tidak beberapa kali melarikan diri dari kemoterapi. Tapi kau itu benar-benar bodoh. Bagaimana bisa kau menyia-nyiakan kesempatanmu untuk bisa hidup sedikit lebih lama. Dan yang baru saja terjadi, bagaimana bisa kau lebih memilih untuk pergi melihat konser sialan itu ? Demi melihat orang itu. Tapi pada akhirnya apa ? Kau tidak bisa melihatnya….” Ibuku terisak. Lalu melanjutkan kalimatnya.
“Kau tidak bertemu dengannya. Tapi kau malah mengalami kecelakaan. Hal itu membuat tim dokter tidak berani mengoperasimu karena luka parah di kepalamu, karena luka memar di otakmu. Karena semakin dibiarkan berlarut-larut, kanker itu semakin cepat menyebar di hampir semua bagian otakmu. Itulah yang membuat umurmu semakin pendek. Lihat ini ! (mengambil rontokan rambut di pundak Hyeojin, menggenggamnya dan menunjukkan pada Hyeojin.) Lihat ini ! Lihaattt !! Apakah kau akan tetap berperilaku seperti ini ?? Kau semakin parah ! Kau tahu ? Harus berapa kali ibu mengatakannya agar kau mengerti. Hah ?”
“Akan lebih baik jika eomma tidak mengatakannya lagi. Karena itu tidak berpengaruh apa-apa. Karena sampai Hyeorin mati pun, Hyeorin tidak akan menyesali keputusan Hyeorin untuk pergi melihat konser itu, meski akhirnya Hyeorin kecelakaan.”
Suasana hening sejenak. Hanya terdengar isakkan dari ibu.
‘Dan lagi, dia bukan orang lain eomma, jadi tolong sebut namanya. Dia Jong Dae oppa. Juga, jangan lagi eomma menyalahkannya. Karena ia tidak salah apa-apa. Ini adalah permintaan Hyeorin eomma. Jebal !”
“Hyaaaaaaaaaaaa!” teriak ibu dengan menutup telinganya, menggeleng serta menutup rapat kedua matanya, sampai ia terjatuh.
Hyeojin POV
“Ah, mwoya ? Nuguji ? Jong Dae oppa, nuguseyo ? Bukankah itu teman masa kecil eonni ? Konser ? Ige mwoya ? Kenapa ibu sampai menjatuhkan diri seperti itu. Eotokke ? Haruskah aku menolong ibu sekarang. Tapi, jika aku menolongnya, mungkin pembicaraan akan berhenti sampai disini. Tetapi jika aku tetap disini beberapa menit lagi, mungkin aku akan mendapatkan sedikit pencerahan mengenai masalah kakak.” ucapku di dalam hati.
Author POV
Ia, sejak ibunya memulai pembicaraan dengan kakaknya, sudah berdiri di depan pintu kamar rawat kakaknya. Namun, ia memutuskan untuk tetap berada di sana sampai ia mendapatkan sedikit clue mengenai masalah yang dialami kakaknya.
Hyeorin POV
Mendengar teriakan ibu, aku juga ikut menangis. Tetapi aku tidak mau melihat ibu. Dengan masih bersimpuh, ibu berkata.
“Bisa-bisanya kau dalam kondisi seperti ini masih tetap membelanya ? Waeyo Hyeorina ?!!”
“Kenapa eomma masih bertanya ? Berapa kali Hyeorin harus mengatakannya agar eomma mengerti ? Hyeorin melakukan semua itu karena Hyeorin mencintainya.”
“Cinta katamu ? Haach, kereom. Jadi sekarang kau sudah sadar bahwa kau bisa berada di sini juga karena dia ?”
“Ani eomma. Ini bukan salah Jong Dae oppa.”
“Hyeorina !! Jika bukan karena kekeras kepalaanmu mencari keberadaannya setelah kau mendengar kabar tentangnya bahwa ia ada di Seoul, mungkin kau juga tidak akan kelelahan seperti ini. Kau tidak akan pulang larut malam hanya untuk mencarinya 3 tahun yang lalu. Kau tidak akan memiliki pola hidup yang buruk jika kau tidak sibuk mencari informasi tentangnya. Kau juga tidak akan sakit seperti ini jika kau tidak selalu memikirkannya. Hyaa, Hyeorina. Kau tahu ? Selama kau berusaha seperti itu, apa dia pernah melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaanmu ? Hah ?”
Aku menghela napas panjang. Lalu aku menjawab pertanyaan ibu tanpa melihat ibu.
“Eomma. Jebal, jangan pernah eomma menyalahkan Jong Dae oppa lagi. Penyakit ini datang karena ini sudah takdir Hyeorin. Tidak ada sejarah yang mengatakan kanker otak terjadi karena terlalu memikirkan seseorang ataupun suatu hal. Tidak ada ! Dokter sudah berulang kali menepis pemikiran eomma yang seperti itu ! Penyakit ini murni penyakit dengan sebab umum yang juga dialami oleh penderita kanker otak pada umumnya. Bukan karena terlalu banyak beban pikiran.”
“Dan juga, eomma perlu mengerti kenapa Jong Dae oppa tidak mencariku. Itu semua karena kesibukannya eomma. Ia datang kemari tidak sama seperti Hyeorin yang menggantungkan orang tua. Tapi ia datang kemari untuk menghidupi diri, orang tua dan keluarganya. Itulah kenapa ia bekerja begitu keras, dan tidak ada waktu mengurusi hal-hal seperti Hyeorin eomma.”
“Hah, jadi kau sadar bahwa Jong Dae tidak mungkin memikirkanmu, tidak mungkin mencintaimu lagi ?”
Aku menangis terisak.
“Geu,..geundae, aku tetap yakin bahwa Jong Dae oppa masih mencintaiku eomma. Namun, jik,..jika memang tidak, maka tidak apa. Karena pada akhirnya aku juga akan pergi sebentar lagi. Aku,….aku hanya ingin dia tahu bahwa…sejak 9 tahun lalu sampai aku mati nanti, perasaanku tetap sama. Perasaanku masih tetap,…” aku semakin terisak.
Lalu aku melanjutkan, “…Perasaanku masih tetap miliknya eomma.”
Ibu bangun dan memegang kedua pundakku. “Hyaa, Hyeorina. Oh Hyeorin ! Ireonna ! Jebal. Waeyo Hyeorin, wae ? Kenapa kau jadi seperti ini. Ini sudah 9 tahun. Apa kau tidak lelah bersikap seperti gadis bodoh seperti ini? tidak bisakah kau melupakannya ? Kau tidak mungkin bisa bersamanya. Daripada bertingkah menyedihkan seperti ini, lebih baik lakukan hal-hal bermanfaat untuk orang-orang yang menyayangimu sebelum kau pergi. Ibu,..ibu sangat merindukanmu Hyeorina ! ( sifat dan diri Hyeorin yang periang, sebelum ia pindah ke Seoul.) Jeongmal bogoshipo….neomu bogoshipo Hyeorina…” Ibu bertanya sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.
“Itu memang tidak mungkin eomma. Karena Hyeorin akan pergi ! Wae ? Eomma bertanya mengapa lagi. Eomma,…nan Jong Dae oppa-reul…saranghamnida eomma.” Aku mengatakannya dengan tatapan mata yang menyiratkan betapa lelahnya diriku, dengan air mata yang semakin mengalir deras di pipiku.
Ibu melepaskan tangannya dari pundakku. Ia memegangi mulutnya agar tidak berteriak. Tetapi ia tidak mampu berdiri ketika melihatku terisak-isak.
Di saat itulah, Hyeojin masuk dan memapah ibu keluar. Sebelum itu, ia menepuk pundakku, memberi tanda bahwa ia akan segera kembali.
*****
Author POV
Hyeorin yang mengetahui maksud adiknya langsung menganggukkan kepalanya. Tetapi tidak menghentikkan tangisannya. Meski tidak bersuara karena mulutnya ditutup oleh telapak tangannya, namun isakkannya sangat memilukan. Melukiskan betapa sakit hati Hyeorin saat itu.
*****
@ SM ENTERTAINTMENT
Author POV
Sudah 2 hari semenjak kegaduhan yang dibuat oleh Beagle Line utama dari EXO di kamar Lay dan Chen berlalu. Kemarin, semua member boyband yang sedang naik daun ini berlatih tanpa henti sejak pagi sampai malam. Karena akan banyak jadwal konser di luar negeri 3 bulan ke depan. Sehingga mereka tidak punya waktu untuk bersantai.
Hari ini mereka juga ada jadwal latihan. Tetapi, hanya para lead dancer yang berlatih serius. Hal ini disebabkan satu member belum kembali setelah kemarin malam ia meminta izin kepada Manajer untuk pulang. Ia pulang karena ibunya menjemputnya langsung.
Di ruang latihan itu, terdengar music Growl tengah diputar.
“Hya, noe mwoya ? Kenapa kalian tidak latihan.” tanya Chen yang baru datang. Ia terkejut melihat hanya 3 main dancer yang berlatih koreografi. Sedangkan yang lainnya tengah duduk melingkar.
Setelah Chen memperhatikan dengan seksama, ia menyimpulkan bahwa Baekhyun, si mulut lebar tengah memimpin mereka untuk membicarakan sesuatu.
“Hyaa, apa yang kalian bicarakan ? Baekhyuna jangan sebarkan virus kepomu itu kepada yang lain ! Sekarang kita harus latihan.” kata Chen.
“Aku tidak akan bisa latihan dengan tenang sebelum rasa penasaranku terhadapmu terjawab Jong Daeya.” sahut Baekhyun.
“Kau penasaran dengan apa ?” tanya Chen seraya meletakkan ponselnya di meja ponsel yang tersedia.
“Mangdung….”
Tiba-tiba terdengar pintu ruang latihan yang modelnya pintu geser, dibuka dengan keras.
Braaakk.
“Hyyaaa, Jong Daeya, noe micheseo ?” teriak 2 manajer yang paling terkenal di antara 6 manajer EXO dan juga fans EXO sendiri. Karena mereka tampan dan juga sangat stylish, hampir menyamai artisnya. Mereka adalah Im Hyun Kyun Manajer EXO M dan Lee Seung Hwan Manajer EXO K. Mereka berdua mengagetkan semua member.
Semua memandang kedua manajer mereka dengan bertanya-tanya.
“Wae gereoyo Hyungnim ?” tanya Suho.
“Ani, Jong Dae eodiyo ?” tanya Im Hyun Kyun dengan terburu-buru.
“Aku disini Manajer Hyung. Waeyo ?”
Baik Lee Sung Hwan ataupun Im Hyun Kyun langsung menghampiri Chen.
“Hyya, mwoji ?! mworago ? Apa yang kau katakan 2 hari lalu di talkshow. Noe micheoseo ? Hya, apa kau tahu sejak tadi malam, SNSku penuh dengan celotehan fansmu, fans kalian. Lalu apa yang harus aku katakan kepada mereka ? Eotokke ?” bentak Im Hyun Kyun.
Chen terdiam sebentar, seperti tengah mengingat-ingat sesuatu. Setelah itu ia berucap dengan nada sedikit menyesal, pelan. “Mianhamnida hyung.” Chen tertunduk.
“Mworago ? Mian ? Hya ! Bukankah kau sudah tahu kalau Manajemen sendiri sudah membuat larangan untuk tidak P-A-C-A-R-A-N dengan siapapun. Tidak terikat hubungan khusus dengan orang lain, baik itu artis ataupun tidak…..Achhh, chinca….Hyaa, apa kau tidak berpikir apa yang akan terjadi pada gadis itu jika wartawan berhasil menemukannya ? Hah ?”
“Mianhamnida hyung. Tapi, aku yakin ia tidak akan apa-apa. Karena aku hanya mengatakan nama panggilannya saja. Wartawan tidak akan bisa menemukannya.” Chen mengatakannya dengan tetap tertunduk.
“Hya, apa kau tidak tahu betapa pintarnya wartawan jaman sekarang? apa kau tidak tahu betapa gilanya wartawan sekarang ? Kalaupun gadis itu aman, lalu apa yang akan terjadi padamu ? Ini semua akan membahayakanmu !”  tanya Im Hyun Kyun lagi.
“Nan arayo hyung.”
“Lalu apa yang akan kau katakan jika ada yang bertanya padamu ?” tambah Im Hyun Kyun.
“Aku hanya akan mengatakan bahwa ia adalah,…” Chen berhenti sejenak.
“Mwo ? Mantan kekasihmu di Middle School ? Dan sekarang kalian sudah tidak lagi bertemu.  Begitu?” tanya Im Hyun kesal.
Chen tertunduk semakin dalam. “Ne, majayo hyungnim.”
Im Hyun Kyun terbelalak, ia terkejut.
Karena mengetahui bahwa kawannya sudah berada di ujung kemarahan, akhirnya Lee Seung Hwan, Manajer EXO K mencoba menenangkan Im Hyun. Ia pun mengambil alih tugas Im Hyun untuk menasehati Chen.
Lee Seung Hwan menghembuskan napas kesal. “Apa kau masih anak-anak? Apa kau masih belum mengerti siapa kau sekarang ? Kenapa kau masih berpikir sesederhana itu ? …. Huft, Ingat! setiap kata-katamu yang terdengar sedikit aneh di depan wartawan akan menimbulkan gosip yang berbeda. Dan itu akan membahayakan orang yang tersangkut di dalamnya, juga karirmu sendiri. Jadi berhati-hatilah di setiap acara broadcast. Jangan lagi hal seperti ini ketahuan wartawan. Algesheo ?”
“Algesheomnida hyungnim. Mianhamnida.”
Kedua manajer menuju pintu. Lee Seung Hwan tetap mencoba menenangkan Im Hyun yang tidak berhenti mengomel. “Ach,.. tidak seharusnya aku memilih istirahat kemarin. Tidak seharusnya aku membiarkanmu pergi dengan Yongmin ke acara itu,…. tanpa diriku. Bagaimana bisa kau berbicara tanpa pikir panjang seperti itu ??…..” Ia berhenti sejenak dan berusaha memarahi Chen lagi. Namun, Seung Hwan berusaha menenangkannya kembali.
“Kau tidak pernah membuat masalah di China, tapi kenapa disini kau seperti ini ??? Huft. Aigo ! Eotokke ? Berita apa yang harus aku buat jika hal ini bertambah besar? Beritamu dengan adik Kyung Soo di jejaring sosial saja belum selesai Jong Daeya !!! Meski itu karena ulah adik Kyung Soo, tapi hal itu sudah tertangkap wartawan, entah mereka akan membesar-besarkannya atau tidak. Sekarang ada lagi….”
Ia berhenti dan menatap Chen kembali, sambil berkacak pinggang.
“Hyaa ! Noe ara ? Karena ulahmu, kami ber-enam dimarahi oleh Soo Man sunbae. Jadi, PUTUSKAN kekasihmu itu sekarang juga ! Kalau tid…”
Seung Hwan memotong kata-kata Im Hyun.
“Hyaa!!! Kkemanera ! Ini bukan sepenuhnya salah Jong Dae ! Lagipula ini sudah sangat terlanjur….mereka sudah pacaran sejak mereka kecil. Kau ingat, kan ? Kau tahu kan betapa sulitnya memutus hubungan yang sudah selama itu ?! Yang penting kita, kau dan aku selalu mengawasi mereka maka tidak akan ada masalah. Hm ?”
“Aish !!! Noe chinca. Kalian ini benar-benar.” Ia kesal dan kembali berjalan menuju pintu. Namun, ia berhenti sebentar dan melihat anak-anaknya. “Hyaaa, kenapa kalian melihat kami ?! Kenapa tidak latihan ?” bentaknya.
“Uuch, Ne Manajer hyung !” sahut mereka serempak sambil berdiri bersamaan dan memberikan salam ketika manajer mereka pergi dengan raut wajah kesal.
Suasana hening sejenak. Lalu, Baekhyun yang paling tidak tahan dengan kesunyian pun mencairkan suasana.
“Mwo ? Mantan kekasih di Middle School ? Omo, bagaimana hal seperti ini tidak pernah kau ceritakan Chena ?”
Chen hanya menanggapi dengan senyum kecutnya. Iapun berjalan ke keranjang air mineral dan mengambil sebotol lalu meminumnya.
“Aku tidak bisa mempercayai orang sepertimu Baekhyuna. Itulah kenapa aku tidak cerita padamu.”
“Ach, changkkamaneyo. Jika ia kekasih Chen di Middle School, lalu bagaimana dengan adik Kyung Soo. Talkshow itu sudah di siarkan kemarin malam, dan kemarin malam juga Kyung Soo dijemput ibunya untuk pulang sebentar. Soelma,….” Chanyeol menimpali dengan kata-kata yang menyerupai seorang detektif.
“Yaha, gereoji. Do Kyung Soo diminta pulang oleh ibunya untuk menenangkan adiknya, Do Seung Soo yang menangis parah karena acara semalam. Yaha, Hyaaa, Chena ! Kau harus bertanggung jawab !” Baekhyun dengan semangat berbicara sambil mendekati Chen.
“Naega wae ?” tanya Chen sambil duduk di samping Xiumin.
“Hyaaa!! Kau yang membuat adik Kyung Soo menangis. Kau kan tahu betapa Seung Soo sangat menyukaimu. Lalu, bagaimana bisa kau bicara seperti itu di talkshow. Apa kau tidak berpikir ia akan sakit hati jika mengetahuinya ?” sahut Chanyeol.
Suasana hening sebentar.
Namun, tiba-tiba Sehun mengagetkan hyung-hyungnya. “Hyyaaaa!!! Hyung, hyung. Kalau ceritanya seperti itu, bukankah Seung Soo akan sakit hati dan menangis. Dia kan sangat menyukaimu, hyung ?”
“Hyya, noe mwoya ? Kau merusak koreografi kita ? Kau selalu merusak di tengah-tengah!” teriak Kai pada Sehun yang seketika langsung menghentikan dancenya juga.
“Chinca? ah mian. Ssst,ssst,ssst.” Sehun tertawa sambil menjulur-julurkan lidahnya. “Lagipula ceritanya seru. Apa kau tidak ingin tahu ?” tanyanya pada Kai.
“Aku ingin tahu, tapi kan tidak dengan mendadak menghentikan gerakanmu. Aku jadi ikut berhenti. ” Ia menggerutu sambil mengambil air minum dan duduk di sebelah Sehun.
“Hyaaaa, Sehuna, kita sudah membicarakannya dari tadi. Kenapa kau baru bertanya hal yang sama sekarang ?” timpal Baekhyun dengan kesal. Sehun hanya membalasnya dengan tawa kecil dan wajah innocentnya. “Hya, Chena, otte ? Bagaimana dengan Seung Soo ? Bukankah kau juga menyukainya ?”
“Dia tidak menyukainya Hyung !” sahut Sehun dan Kai bersamaan.
“Diam anak kecil ! Kalian tahu dari mana ?” Baekhyun mencibir Sehun dan Kai.
“Otte Chena ? Jika kau tidak menyukainya, lalu kenapa kau memenuhi permintaannya untuk jalan bersama beberapa kali, hoh ?” goda Chanyeol dengan ekspresi ingin tahu.
Suasana kembali hening. Semua mata kini tertuju pada Chen, mengharapkan jawabannya.
Setelah menyadarinya, Chenpun langsung berkata, “Noe mwoya jigeum ? Nan anchoanttagu. Aku hanya menganggapnya sebagai adik saja. Aku menurutinya, karena ibunya meminta padaku. Katanya Seung Soo tidak mau makan karena aku sering menolak permintaannya untuk jalan denganku. Jadi aku akhirnya mengalah, karena aku merasa tidak enak pada Kyung Soo dan ibunya. Lagipula dia 5 tahun lebih muda dariku. Dia masih kecil. Itu pasti hanya perasaan suka biasa. Dia tidak mungkin benar-benar mencintaiku.” jawab Chen kemudian.
“Jika kau meragukan perasaannya, apa kau juga pernah meragukan perasaanmu dulu ? Bukankah kau juga menyukai Mangdungeo sejak kau masih berusia 12 tahun ? kau bahkan lebih kecil dari Seung Soo saat itu !” ejek Luhan tiba-tiba.
“Hyung, mwoya ? Aku menyukai Seung Soo hanya sebagai adikku saja, tidak lebih.”
“Noe chinca Chena. Jika kau menganggapnya adik, kenapa kau tidak pernah bilang padaku ? Tahukah kau betapa sulit aku menghentikannya menangis ?” sahut DO yang baru datang, dan ia juga ikut duduk di sebelah Luhan dengan raut wajah lelah.
“Whoaaah, daebangida ! Pertarungan antara kakak dan calon adik ipar akan segera dimulai. Tinggggg!” celoteh Baekhyun. Seketika semua member tertawa kecil. Namun Suho memukul pundak Baekhyun, menyuruhnya diam.
“Hyaaa. Hajima !” sergah Chen pada Baekhyun. “Bukan seperti itu Kyung Sooya. Mian. Kau baru mengetahuinya sekarang. Tapi, memang. Aku tidak memiliki perasaan apapun pada Seung Soo, aku hanya menganggapnya sebagai adik saja.”
DO tertawa kecil melihat ekspresi wajah Chen yang memelas. “Arayo Chena. Aku hanya bercanda. Tapi, sebagai gantinya,…kau harus menceritakan kepada kami siapa itu Mangdungeo. Kau harus menebus kesalahanmu karena tidak pernah menceritakannya pada kami. Kau tahu, aku lelah karena semalaman aku tidak tidur hanya untuk menenangkan Seung Soo. Kau harus membayar itu semua.”
“Hah, neo ?” tersenyum lega. “Arasheo,arasheo. Aku akan memberitahu kalian.”
Ketika semuanya sudah duduk tenang, dan mengambil posisi paling PW untuk mendengarkan cerita Chen, tiba-tiba Lay yang dari tadi belum berhenti berlatih dance mengagetkan mereka.
“Hyaaaaaaaaaa!!! Lihatlah mereka, nuguji ? Bukankah mereka wartawan ? Mereka memasuki gedung ini. Mereka banyak sekali. Bukankah SM sedang tidak ada acara apapun ? Waeyo ?” teriaknya. Semua member saling tukar pandang.
“Jeongmaleyo ?” cercah Baekhyun dengan melebarkan mata sipitnya. “Woaaah, daebangida. Cepat sekali ? Kita memang sudah populer ya sekarang ? Dicolek sedikit saja, mereka sudah datang. Yahaaaa!!!” sahut Baekhyun yang langsung melihat ke luar jendela sambil meliuk-liukkan badannya dengan senang, diikuti member lain.
Ruang latihan mereka yang berada di lantai atas membuat mereka bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di gedung bawah.
Ketika member lain tengah berkerumun di jendela, Chen dan DO hanya berdiam diri. Tetap dalam posisi duduk, namun saling tukar pandang satu sama lain. Dalam diam, jantung Chen berdegup semakin cepat.

BSMB~~~~~~~~~ :) :D :p > BPT ♀