Tittle : I BELONG TO YOU
Main
Cast : Oh Hyeorin, Kim Jong Dae
(Chen EXO)
Other Cast : All EXO
members, Oh Hyeojin, Do Seung Soo, Mr. Lee Soo Man, Lee Seung Hwan (Man. EXO K),
Im Hyun Kyun (Man. EXO M), dll. ☻
Genre : Romance,
Comedy, Angst, Sad Ending
Length : Parts J
Rating : Teen (PG 15 + J)
Disclaimer : This story is mine. Made by me. From
my own imagination. No copy, no bashing. DON’T BE A PLAGIAT !!! J
Algesheo ??!!! :) ~~~ BPT ♀
I
BELONG TO YOU – PART 1
Salju
yang masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tetapi hanya berbeda tempat
untuk menikmatinya saja. Pagi hari yang sama seperti minggu-minggu sebelumnya.
Hanya berbeda tempat untuk merasakannya saja.
Author
POV
Hyeorin
melihat ke samping kirinya, dan terpajang jelas kantong infus dengan selang
yang menancap ke tangan kirinya. Sudah 2 minggu lamanya ia menjadi rawatan di Wooridul
Spine Hospital Lt. 20 Kamar A-1, Seoul. Hyeorin hanya bisa menghela napas
panjang, dan kembali melihat butiran salju yang turun di langit Seoul untuk
pertama kalinya ketika musim dingin datang tahun ini. Terlukis senyum kecil di
sudut bibirnya, diikuti oleh butiran air mata yang seketika melinangi pipinya.
Sesekali ia membersihkan rontokan rambut di pundaknya, yang jatuh dari kepala
ber-beanienya.
Seketika
itu pula terdengar pintu kamar rawatnya dibuka. Dari langkah kakinya sudah
dapat ditebak siapa dia. Maka Hyeorin pun tidak menolehkan wajahnya, tetapi ia
segera mengusap air matanya.
“Bukankah
kau seharusnya istirahat ?” tanya Ibu Hyeorin sambil meletakkan tas tanpa
mengambil tempat untuk duduk.
“Eomma,
lihatlah ! Mereka jatuh dengan indah sekali.” Hyeorin menunjuk salju diluar
sana, berusaha mengalihkan pembicaraan tanpa memandang ibunya.
“Kembalilah
ke ranjangmu, dan istirahat !”
Ia
mendengus kesal demi mendengar perintah ibunya. “Daripada aku tidur, lebih baik
aku melihat pemandangan seperti ini eomma. Karena saat ini aku hanya
membutuhkan healing. Biar aku tenang. Aku tidak membutuhkan perawatan seperti
ini. Semuanya akan sia-sia.”
“Hyaaa!
Eomma sudah lelah. Kau tahu bagaimana sibuknya eomma ini, kan ? Jadi jangan
membuat eomma memarahimu karena sikap keras kepalamu itu. Cepat istirahat !”
“Eomma
! Jika eomma bilang eomma lelah karena kesibukan yang tidak karuan, lalu apa eomma
pernah tahu kalau Hyeorin juga lelah ?”
“Apa
yang kau bicarakan ?! Cepatlah istirahat !”
“Eomma,
apa eomma memang tidak mau mendengarkanku ?
Eomma tidak pernah mau menghiraukan aku, pendapatku. Mengaturku semau eomma.
Mungkin tidak seharusnya 9 tahun lalu aku ikut kalian ke Seoul.”
Ia
menghela napas panjang. Terlihat jelas raut kesal di wajahnya akibat perkataan
Hyeorin. “Hyaa ! Hyeorina ! Daripada kau mengatakan hal yang tidak-tidak, lebih
baik kau pikirkan bagaimana caramu untuk memenuhi permintaan appamu. Permintaan
yang sudah menjadi harapan baginya sejak kau kecil.”
“Harapan
yang mana ? Menikah ?”
“Hyeorin
! Apa kau tidak bisa sedikit serius dengan permintaan mendiang ayahmu ?”
“Lalu
apa gunanya Hyeorin menikah eomma ?”
“Setidaknya
kau bisa memenuhi permintaan terakhir ayahmu, kan ? Ia ingin sekali melihatmu
menikah sebelum ia meninggal. Tapi, lihatlah sekarang ! Karena ulahmu itu,
sampai ayahmu meninggal, kau tidak bisa memenuhi permintaannya. Padahal itu
permintaan terakhirnya Hyeorin. Sekarang kau masih punya waktu, jadi
lakukanlah. Lakukan sebagai pengabdian terakhir dari seorang anak kepada ayahnya.”
“Eomma,
jika Hyeorin menikah, apakah itu tidak terlalu egois ? Hyeorin sudah berulang
kali divonis eomma. 1 tahun, 6 bulan, dan yang terakhir 2 bulan mulai sekarang.
Jika sekarang Hyeorin menikah, lalu bagaimana nasib suamiku setelah 2 bulan
nanti ? Aku sudah tidak akan mungkin selamat. Jika aku menikah, maka semuanya
hanya akan menjadi lelucon.”
Ibu
Hyeorin menghela napas demi menahan air matanya. “Ini juga salahmu ! Seandainya
sejak 2 tahun lalu, ketika ayahmu masih hidup kau sudah menikah, hal sulit
seperti ini tidak akan terjadi. Kita tidak akan merasa bersalah kepada mendiang
ayahmu.”
“Disaat
itupun aku sudah divonis dengan penyakit ini eomma. Sama saja.”
“Tapi
paling tidak saat itu waktumu masih panjang, kan ? Tapi apa yang kau lakukan, apa
yang kau katakan ?! Kau malah bilang kalau kau tidak ingin menikah. Kau
mengatakan di depan ayahmu bahwa kau masih menunggu seseorang yang kau
sukai di sekolah lamamu sebelum kau pindah ke Seoul. Seseorang yang kau sendiri
tidak tahu dia ada dimana saat itu, kau tidak tahu apakah dia masih menyukaimu
atau tidak. Bahkan kau mengatakan bahwa kau tidak yakin apakah dia masih
mengenalimu atau tidak. Dan kau ingat,..”
Ibu
Hyeorin menghentikan kalimatnya. Ia berusaha sekuat mungkin menahan air matanya
agar tidak jatuh. Air mata yang sejak ia datang telah menggantung di pelupuk
matanya setelah melihat kondisi putrinya yang semakin menyedihkan. Ia sejenak memandang
ke langit-langit seraya menelan ludah, lalu melanjutkan kalimatnya dengan pelan
dan sedikit menekan. “Kau ingat Hyeorin, malam harinya setelah kau mengatakan
hal itu ayahmu meninggal Hyeorin !!!!”
“Jadi
eomma menyalahkan Jong Dae oppa ?” tanya Hyeorin, lalu ia menoleh dan memandang
ibunya dengan alis yang berkerut.
“Hyaa,
kkemanera ! Jangan memanggilnya seperti itu. Membuatku bertambah gila, kau tahu
itu ?! Kau tidak pantas menunggunya lagi. Dia sudah meninggalkanmu ! Dia sudah
melupakanmu ! Dia tidak akan pernah mengenalimu lagi! Sekarang lihatlah !
Bukalah matamu ! Semua orang mengenalinya, dia bukan lagi orang biasa sekarang.
Dia sudah menjadi bintang. Dengan begitu, apa kau pikir ia masih mengenalimu
yang bukan siapa-siapa ini, ha ?!”
“Eomma,
oppa tidak meninggalkanku. Tapi akulah yang meninggalkannya. Dan itu semua karena
salah kalian, appa dan eomma memaksaku ikut pindah ke Seoul tanpa bisa
mengatakan apapun kepadanya, meski hanya untuk kata perpisahan.”
“Hyaa!
Lalu apa kau pikir dia merasa kehilangan atas kepergianmu yang mendadak itu ?
apa kau pikir jika kau masih bersamanya sampai sekarang, ia akan tetap
menganggapmu ketika ia sudah menjadi bintang seperti saat ini ?”
“Ne eomma.
Gereoji. Aku yakin. Karena ia mencintaiku dan akupun begitu.”
“Kkemane,
Hyeorin ! Jebal ! Hal seperti itu terjadi 9 tahun lalu, saat kalian masih
kecil. Tidak mungkin sekarang masih terjadi. Kalian sekarang berbeda. Ia tidak
akan mengenalimu lagi. Kalaupun benar bahwa dulu dia mencintaimu, sekarang tidak
mungkin ia masih mencintaimu. Kau tahu itu ? Apa gunanya kau menunggu orang itu
Hyeorina ? Wae ?!”
Hyeorin
menatap mata ibunya dengan nanar. Alisnya mulai berkerut, kedua matanya mulai
memerah, tangannya menggenggam erat. Ia menggigit bibirnya demi menahan air
matanya agar tidak jatuh. Namun beberapa detik kemudian, ia terisak dan air
matanya mengaliri pipinya kembali.
“Nan,…nan
Jong Dae oppa-reul,..saranghamnida eomma !” ia berkata di depan ibunya seperti
memohon sesuatu, seperti menekankan sesuatu. Kemudian ia kembali menghadap
jendela sembari mengusap air matanya.
Melihat
hal itu, air mata Ibu Hyeorin berjatuhan, ia tak mampu menahannya lagi. “Hyaa,
Hyeorina, neo ara ? Karena sesuatu yang kau sebut cinta itu, kau hampir saja
kehilangan nyawamu ! Jika tidak karena keinginanmu melihat konser Jong Dae
bersama grupnya itu, kau tidak akan mengalami kecelakaan parah seperti kemarin.”
“Itu
bukan masalah besar eomma. Itu bukan salah Jong Dae oppa.”
“Bagaimana
mungkin bukan masalah besar ? Kau menderita luka parah di kepalamu. Kau
kehilangan banyak darah. Kau hampir kehilangan nyawamu jika adikmu tidak segera
pulang dari China lalu mendonorkan darahnya. Apa kau tidak tahu betapa takutnya
eomma saat itu, ha?
“Karena
semua itu, tim dokter semakin angkat tangan terhadap penyakitmu. Rencana operasi yang 3 bulan lalu katanya masih
mungkin dilakukan menjadi tidak mungkin karena kecelakaan itu. Semua itu
menyebabkanmu harus terbaring di sini selama 2 bulan terakhirmu. Dan, ketika
keadaanmu seperti ini, apakah Jong Dae menjengukmu ? Tidak kan ? Lalu kenapa
kau masih menunggunya ?”
“Eomma,
oppa tidak menjengukku karena ia tidak tahu bahwa keadaanku sekarang seperti
ini.”
“Hyaa,
Oh Hyeorin ! Meskipun ia tahu, apa kau pikir ia akan menjengukmu ?”
“Mengingat
kesibukan oppa saat ini, maka sampai matipun aku tidak ingin ia mengetahui
keadaanku yang sekarang eomma.”
“Apa
?” Ibu Hyeorin semakin terisak, menggelengkan kepalanya seraya mendekati
putrinya yang sedari tadi masih duduk di kursi rodanya, menatap keluar jendela.
Ibu Hyeorin mendekatkan wajahnya ke wajah putrinya, walaupun putrinya terus
memandang jauh ke depan, tidak menoleh sedikitpun.
Meski
begitu, dari samping ia masih bisa melihat kedua mata putrinya yang dipenuhi
peluh air mata. Mata Hyeorin memerah, tetapi Hyeorin tetap berusaha agar air
matanya tidak jatuh. Dengan pelan dan menghentikan isakannya, ia bertanya “Hyeorina, hajima. Neo micheoso
?”
“Ne eomma.
Nan micheoso.” Hyeorin langsung menjawabnya, iapun menangis lagi dengan tatapan
mata tetap lurus ke depan, tanpa melihat ke arah ibunya.
Melihat
putrinya menangis, ia merasa kesal, marah, tetapi juga tidak tega. Karena,
putrinya sudah menjelma menjadi orang yang tidak memiliki semangat hidup lagi. Ingin
sekali ia memeluk putrinya lalu menenangkannya, atau menyeret orang yang
bernama Jong Dae itu ke hadapan putrinya. Namun ia tidak mampu melakukannya. Ia
juga tidak mampu melihat putrinya yang amat menyedihkan saat ini.
Ia
pun langsung meninggalkan putrinya sambil menangis.
Sedangkan
Hyeojin, putri keduanya, masuk ke kamar rawat kakaknya. Hyeojin pun
bingung melihat ibu dan kakaknya
menangis. Hyeojin ingin bertanya pada ibunya kenapa ia menangis, tapi ia tak
sanggup.
*****
Author
POV
Ibunya
keluar sambil memandangnya dan memberikan semacam kode kepada Hyeojin untuk
menenangkan kakaknya, menggantikan dirinya.
Ia
pun hanya bisa tersenyum, lalu menepuk pundak ibunya. Kemudian ia menghampiri
kakaknya yang masih menangis. Dan kali ini tangisan kakaknya tidak
tanggung-tanggung lagi. Isakkan kakaknya begitu kencang dan memilukan, membuat
hatinya sesak. Ia memang seperti memiliki ikatan batin yang kuat dengan
kakaknya, meskipun mereka bukan saudara kembar. Bahkan yang membuatnya pulang
dari China kemarin saat kakaknya kecelakaan bukanlah telpon dari ibunya,
melainkan perasaan dan pikirannya yang tidak enak mengenai kakaknya.
Setelah
menutup pintu, ia mendekati kakaknya yang tengah menangis sambil memegang erat dadanya.
“Eonni,
wae geuraeyo ?” ia bertanya sambil memeluk kakaknya dari belakang.
Namun
Hyeorin mengabaikannya, ia masih terus menangis, masih tetap terisak.
“Eonniya,
wae geuraeyo ?” ia bertanya sambil berlutut di samping kursi roda, tempat kakaknya
duduk.
Setelah
menunggu beberapa saat, Hyeorinpun menjawab pertanyaan adiknya.
“Aniya.
Gweanchana.” Hyeorinpun menjawab adiknya sambil mengusap air matanya.
“Gotjimal. Jika tidak ada apa-apa, lalu kenapa Madam X
menangis. Kau juga. Tangisanmu keterlaluan. Hatiku ikut sakit melihatnya, meskipun
aku tidak tahu alasannya. Aku baru dua kali ini melihatnya. Bahkan ketika appa
meninggal, tangisanmu tidak sampai seperti ini.”
Hyeojin
adalah gadis yang cukup nakal. Tetapi ia sangat menyayangi keluarganya,
terlebih kakaknya. Ia juga tergolong anak yang cerdas tetapi sangat malas.
Namun, setelah mengetahui kakaknya divonis kanker otak 3 tahun yang lalu, ia
yang semula pemalas ajaib berubah menjadi anak yang sangat rajin. Ia tidak
pernah lagi menyia-nyiakan waktunya untuk belajar. Sampai akhirnya ia mampu
lulus 1 tahun lebih awal dari SOPA, Seoul pada jurusan seni lukis. Ia lulus dengan
nilai tertinggi dan langsung dilatih menjadi pelukis professional oleh salah
satu agensi pencarian bakat di China. Selain itu, ia juga dikuliahkan di Peking
University, Beijing untuk mendalami Seni Lukis oleh agensi tersebut.
Hingga
akhirnya Hyeojin menjadi cukup terkenal dengan semua lukisannya. Tidak hanya di
China dan Negara-negara lain, tetapi juga di negaranya sendiri. Iapun
mendapatkan honor yang sangat fantastic untuk setiap lukisannya. Menurut kabar
yang akhir-akhir ini dilansir, satu lukisannya hampir mencapai angka 5 juta
won. Tetapi belum ada statement apapun dari pihak manajemen Hyeojin terkait
berita heboh ini. Di samping itu, ia juga menjadi kepala rumah tangga utama
sejak appanya meninggal 2 tahun lalu.
Selain
sebagai pelukis, ia juga memiliki bakat broadcasting yang sangat bagus. Ia
sempat mempelajarinya selama ia menjadi broadcaster di radio internal SOPA.
Oleh karena itu, ia juga sering diminta sebagai Host di beberapa acara TV
China. Ia juga pernah menginterview beberapa artis besar dari luar negeri.
Termasuk dari negaranya sendiri.
Ia
jarang ada di negaranya, apalagi di rumah semenjak ia direkrut oleh agensi
China. Tetapi mengetahui penyakit kakaknya bertambah parah, kemarin ia pun
meminta izin untuk masuk dalam agensi cabang yang ada di Seoul. Ia melakukannya
demi menjaga kakaknya di detik-detik terakhir yang dimiliki oleh kakak
tercintanya.
Dari
kecil, ia dan kakaknya suka sekali menggoda orang lain. Mereka berdua sama-sama
tidak menyukai sikap cerewet ibunya. Oleh karena itu, mereka punya panggilan
sendiri untuk ibunya yaitu Madam X. Meski begitu, ia dan kakaknya tetap
menyayangi ibu mereka.
“Gwaenchana,
Yeojinie. Tidak ada apa-apa. Oh, kau bilang sudah dua kali aku menangis seperti
ini ? Eonje?” tanya Hyeorin.
“Aaaa,
yang kedua saat ini, yang pertama itu ketika kita akan pindah ke Seoul. Kau terisak-isak
sampai tangan juga badanmu kaku dan dingin. Kau masih ingat ?”
“Jeongmal
?” dengan mata yang melebar.
“Ooo,
bahkan sampai di Seoul pun kau tidak berhenti menangis. Kau tahu, appa saat itu
sangat khawatir. Kau tidak mau makan 2 hari 2 malam. Hingga akhirnya kau
pingsan dan menjadi rawatan di rumah sakit selama 1 minggu. Uch, paboya !”
“Waa,
aku sudah lupa.” jawab Hyoerin dengan sedikit senyuman.
“Bagaimana
mungkin kau ingat. Kau terlihat seperti orang amnesia saat itu. Sejak itu pula,
kau berubah menjadi gadis yang membosankan. Kau seperti kehilangan semangat
hidupmu. Kau sering melamun tanpa alasan. Dan kau juga tidak pernah berbagi
cerita denganku lagi. Setiap kali aku bertanya, kau selalu bilang ‘gwaenchana’,
hah, neo ara betapa aku ingin tahu masalahmu itu ? Aku yakin itu adalah masalah
yang sangat besar. Ceritakan padaku eonniya. Jebal ! Biarkan aku membantumu ,
hm?!” Hyeojin berlutut pada kakaknya.
Suasana
hening sesaat, tetapi Hyeojin tetap berlutut. Hyeorin hanya melihat
dongsaengnya dengan tersenyum.
“Neo
mwoya jigeum ? Ireonna !! Lebih baik kau membantuku pindah ke ranjang daripada
melakukan hal bodoh seperti itu. Ppali. Aku lelah !”
“Eonni
?!” rajuk Hyeojin.
“Wae
?”
“Aku
ingin membantumu !” ia memelas dan melihatkan aegyo di depan kakaknya.
“Hya,
kau tidak imut sama sekali ! Cepatlah, bantu aku pindah !”
Ia
mem-pout-kan bibirnya. Ia kesal pada kakaknya. Tapi ia juga tahu bahwa kakaknya
lelah. Maka iapun membantu kakaknya. Setelah kakaknya berbaring, iapun kembali
memohon kepada kakaknya.
“Gereu.
Aku akan cerita padamu.”
“Chinca
?” ia membuka mata sipitnya selebar lebarnya. Dengan riang, iapun segera duduk
di samping ranjang kakaknya.
“Belikan
aku salad buah dulu. Ppali. Aku lapar.”
“Eonni
!!” ia mengerutkan alisnya.
“Ppaliwa!!!”
Ia
menggigit bibirnya.“Noe, nan biwoyo eonni.” bentaknya sambil mengambil dompet
di tasnya lalu pergi meninggalkan kakaknya.
“Geundae,
sarangheyo Yoejinie !” balas Hyeorin sambil tertawa kecil.
*****
@ SM
ENTERTAINMENT
Author
POV
“Hyaaa,
Chena, jeongmaleyo ?” tanya Chanyeol pada Chen yang masih sibuk dengan
ponselnya sejak turun dari mobil setelah pulang dari acara Beatles Code.
“Mworago
?” ia membalasnya tetapi langsung meninggalkan Chanyeol ke kamarnya.
Meski
mendahului, Chen masih mendengar panggilan Chanyeol. Namun ia tak ingin
menghiraukannya saat ini. Ia sangat lelah. Ia semakin mempercepat langkahnya
menuju kamar dormnya.
Ketika
membuka kamarnya, ia melihat Lay yang tengah berlatih dance. Ia memakai celana jeans
pendek dan kaos biru yang dibelikannya. Lay terlihat cool dengan topi yang
dipakainya, namun ketika harus melihat ke bawah, Lay membuat orang tertawa.
Bagaimana mungkin tampilan sekeren itu ditambah dengan kaos kaki pink yang
dibelikan olehnya ?
“Waeyo
Chena ? Kenapa tertawa ? Apa danceku jelek ?” tanya Lay.
“Aniya
Hyung. Geunyang, ada apa dengan kaos kakimu ?” Chen tertawa lalu meninggalkan
Lay yang memandang kaos kakinya dengan wajah linglung.
Ketika
Chen sedang berada di kamar mandi, terdengar suara berlarian dari luar kamar.
Suara music dari ponsel Lay yang tidak terlalu keras, membuat Chen mendengar
langkah kaki itu dengan jelas.
Kreek.
Braakkk.
“Hya,
Chena, jongmaleyo ?” Baekhyun dengan riangnya, dengan mata sipit yang
membelalak membuka pintu kamar Chen dan Lay.
“Aish,
Kkamjagiya ! Noe mwoya, Baekhyuna ?!” Lay terkejut dan segera menghentikan
music di ponselnya.
“Ani
hyung, Chen eodiyo ?”
Tidak
lama kemudian, Chanyeol pun datang dengan tidak kalah hebohnya dari Baekhyun.
Lay
terkejut sekali lagi.
“Hyaaa!!!
Noe ! noe mwoya ? Wae gereoyo ? Hoh ?”
Chanyeol
membalasnya dengan senyum lebar dan wajah innocentnya. Tidak lama kemudian,
Chen keluar dari kamar mandi. Ia masih mengelap rambutnya dengan handuk. Lalu,
Baekhyun dan Chanyeol saling mendahului menghampiri Chen tanpa menghiraukan Lay
yang hampir jatuh karena ditabrak mereka.
Chen,
member China yang juga akrab dipanggil Jong Dae (nama asli), yang
sekarang juga tengah kebingungan dengan tingkah Chanyeol dan Baekhyun akhirnya
bertanya.
“Hyaaa,
Beagle line. Wae gereoyo ? Hoh ?”
“Noe
chinchayo ? Jongmaleyo ?” tanya Baekhyun.
“Mworago
?” Chen semakin bingung.
“Aish.
Noe kka!! Kau terlalu berbelit-belit.” Chanyeol maju satu langkah di depan
Baekhyun. “Hya, Chena, Mangdungeo nuguseyo ?? ”
Chen
tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut dari wajahnya. Ia mengalihkan
pandangan dari dua perusak parah ini ke mata Lay. Namun, mata Lay yang selalu
terlihat mengantuk itu membuatnya tambah bingung. Lay juga tidak kalah
bingungnya, karena dari tadi ia tidak tahu apa-apa.
Suasana
hening selama beberapa detik lamanya. Hanya dihiasi oleh kedipan mata dua
perusak utama di EXO yang mengharap jawaban dari Chen.
“Aish.
Ini terlalu lama. Chena, ppaliwa ! Jawab kita. Atau aku katakan pada member
lain.” Baekhyun membalikkan badannya.
“Andwae.
Hajima !”
“Gereu.
Gendeu, katakan. Mangdungeo nuguseyo ?” tanya Baekhyun dengan ekspresi sedikit
mengejek dihias dengan wajah imutnya.
“Hyaa,
un--untuk apa kalian tahu ? Hah ?” tanyanya agak gugup.
“Kurae,…”
Baekhyun tersenyum sinis dan membalikkan badannya sekali lagi. Ia berniat
keluar dari kamar itu.
“Changkamaneyo
!” Chen menarik tangan Baekhyun. “Jangan katakan ke member lainnya, belum
saatnya mereka semua tahu.”
“Mworago
? Hyaa, apa kau lupa ? Kau sendiri yang mengatakannya di acara tadi. Di hadapan
member lainnya. Di hadapan MC. Di hadapan penonton. Jong Daeya, hya chinca noe
chemitta. Sekarang kau minta kami tidak boleh bilang. Semua sudah tahu lah
pastinya !” sahut Chanyeoul seraya tertawa lebar.
Chen
hanya membalasnya dengan dengusan kesal. “Kalian pasti sudah menggunakan mulut
lebar kalian untuk mengatakan hal ini kepada yang lain.”
“Ani.
Kami belum menyebarkan. Kami hanya memberitahu mereka dengan pelan-pelan.”
Baekhyun membela diri. “Cepat katakan ! Nuguji ?!”
“Huft,
matta. Aku memang tidak akan bisa menyimpan rahasia di sekitar orang-orang
seperti kalian.” Ia berjalan menuju ranjangnya, lalu mengambil dompet di
celananya dan dengan sedikit terpaksa ia memberikan sebuah foto kepada
Baekhyun.
“Ige
mwoya ? Ige nuguya ?” Baekhyun mengomel sendiri sambil melihat foto itu.
“Hya,
bukannya kau ingin tahu siapa itu Mangdungeo. Foto itu adalah gadis yang ingin
kau tanyakan padaku.”
“Mwo
? Chincayo ? Whaaaaaaa, yeppuda ! Jeongmal, hyaa Chanyeola, Hyung, lihat ini !”
celoteh Baekhyun sambil menunjukkan foto itu kepada Chanyeol dan Lay.
“Otte
Chanyeola ? Hyung ?”
“Whaaa,
yeppuda !” sahut Chanyeol.
“Hya,
Chena, nuguji ?” tanya Lay linglung.
“Aish,
kkaepsong ! Hyung kau ini benar-benar pelupa akut ! Kan kami tadi bertanya
tentang siapa itu Mangdungeo, nah berarti foto ini adalah Mangdungeo. Hyunga,
jebal !” sahut Baekhyun kesal.
“Aniya,
Baekhyuna. Geunyang, nan jeongmal mollaseo. Sama sekali. Padahal aku sekamar
dengannya. Tapi kenapa kalian tahu lebih dulu ?”
“Hyung,
mereka tahu karena aku tadi bercerita tentang gadis itu di acara talkshow. Dan
Chanyeol ikut. Itulah kenapa Baekhyun tahu. Inipun pertama kalinya mereka
tahu.” Chen menjelaskan.
“Ahh,
Gereoyo ? Kereom, nuguji ?” tanya Lay lagi.
“Ah,
matta. Nuguji ? Yeoja chingu ?!” Chanyeol menambahi.
“Seolma.
Andwae, Chanyeola. Choltte andwae. Jika iya, lalu bagaimana adik Kyung Soo ?
Seung Soo sangat menyukai Jong Dae, kau tahu kan ? Setahuku mereka juga sudah
pernah jalan bersama. Gereoji, Jong Daeya ?” Baekhyun semakin membuat Chen
tidak bisa menjawab.
Chen
terdiam lagi. Kedua bibirnya saling mengunci satu sama lain. Matanya melirik
kesana kemari. Seperti mencari sesuatu yang mungkin bisa menyelamatkannya.
Ketiga orang yang ada di depan Chen juga
tidak kalah diamnya. Mereka menantikan jawaban dari Chen. Dan tiba-tiba,..
Ceklik.
Kreeek.
“Hya,
noe mwoya ? Kenapa tidak tidur. Besok ada latihan pagi. Ppali chalja !
Baekhyuna, Chanyeola, kka !!” sang leader EXO K masuk untuk memeriksa anggotanya.
Chen
bernapas lega. “Ah, matta. Neo ara ? Besok kita ada latihan pagi. Kita punya
jadwal yang padat selama 3 bulan ke depan, alchi ? Kkereom, kka ! Chalja !”
sahut Chen sambil mendorong kedua perusak itu keluar.
“Hya,
hyung. Kau mengganggu saja. Hya, Chena ! Aku akan membeberkannya jika kau tidak
mau cerita.” ancam Baekhyun dengan menunjuk Chen menggunakan telunjuknya..
“Katakan
saja. Lagipula semua orang akan tahu tanpa mereka harus mendengarkan mulut
lebarmu itu. Ppali kka !!!” ia mendorong Chanyeol dan Baekhyun menuju pintu.
“Hyung, gomawo !” imbuhnya kepada Suho yang bingung saat itu. Lalu, Chen
menutup pintunya dan menuju ranjangnya.
Lay
mengikuti Chen dan bertanya “Hyaaa! Chena. Nuguji ?”
Chen
menutup wajahnya dengan bantal dan memunggungi hyungnya.
“Hya,
kau tidak sopan sekali. Ppaliwa. Siapa gadis itu ?”
Chen
membuka bantalnya dan menjawab. “Mungkin besok hal ini akan menjadi gosip tak
karuan. Besok hyung juga akan tahu.” jawabnya pasrah.
“Dia
kekasihmu ?” tanya Lay penasaran.
“Sekarang
mungkin,…sudah tidak.”
Jawaban
Chen menjadi penutup pembicaraan mereka berdua malam itu. Karena Chen tertidur
setelahnya. Sedangkan Lay yang punya hobi tidur segera menyusul Chen, meskipun
ia belum terpuaskan oleh jawaban Chen.
*****
@
HOSPITAL
Hyeorin
POV
Sedari
tadi, sejak pagi tadi aku menghias kalender yang hanya berisi dengan
tanggal-tanggal selama 2 bulan terakhir. Yaitu bulan November sampai Desember.
Kutambahkan icon “kyeo” favoritku di beberapa sudut kalender itu. Dengan
sekali-kali meminum air putih tanpa memakan makanan yang disediakan oleh rumah
sakit.
Di
saat itu, ibuku datang.
“Uuu,
eomma. Wae gereoyo ? eomma tidak ke kantor ?” tanyaku.
“Tidak.
Eomma ingin istirahat dulu. Kenapa ini tidak kau makan ? Lihatlah tubuhmu itu,
kurus sekali. Ppali moekko.” tanya Ibu.
“Shireo
eomma ! Makanannya tidak enak. Lagipula Hyeorin sudah kenyang dengan
obat-obatan itu. Jadi tanpa makananpun Hyeorin akan tetap hidup.” aku menjawab
ibu tanpa mengalihkan pandanganku dari kalender yang kuhias.
“Hya
! Hyeorina !”
“Mianhae
eomma. Tapi, Hyeorin lelah. Katakan saja kalau Hyeorin bisa bertahan hidup
selama 2 bulan ini karena bantuan obat-obat menyakitkan itu kan ? Tanpa mereka
mungkin sekarang Hyeorin akan mati. Iya kan ?’’ jawabku sambil menatap ibuku.
“Hya.
Kkemanera. Hajima, Hyeorina !”
Author
POV
Ibu
Hyeorin sepertinya mulai lemah. Karena sejak kecelakaan yang menimpa Hyeorin 2
minggu lalu, ia menjadi semakin rapuh. Ia menjadi orang yang sangat mudah
menangis, apalagi jika mengenai Hyeorin. Termasuk pagi ini. Mungkin ini sudah
keseribu kalinya ibu Hyeorin menangis karena putri pertamanya.
Hyeorin
POV
“Eomma.
Uljimayo. Hajima. Tidak ada gunanya.”
Ibuku
hanya menundukkan kepalanya.
“Eomma.
Mianhae. Tapi kenyataannya waktu Hyeorin hanya tinggal 2 bulan lagi. Jadi,
biarkan Hyeorin melakukan apa yang ingin Hyeorin lakukan. Meminta apa yang
ingin Hyeorin minta. Membayangkan apa yang ingin Hyeorin bayangkan. Melihat apa
yang ingin Hyeorin lihat. Mengatakan apa yang ingin Hyeorin katakan. Karena
hanya itulah keinginan Hyeorin sebelum Hyeorin pergi eomma.”
“Hyeorina.
Apa kau tahu ? Waktumu mungkin masih bisa bertambah lama jika saat itu kau tidak
meninggalkan rumah sakit, dan juga tidak beberapa kali melarikan diri dari
kemoterapi. Tapi kau itu benar-benar bodoh. Bagaimana bisa kau menyia-nyiakan
kesempatanmu untuk bisa hidup sedikit lebih lama. Dan yang baru saja terjadi, bagaimana
bisa kau lebih memilih untuk pergi melihat konser sialan itu ? Demi melihat
orang itu. Tapi pada akhirnya apa ? Kau tidak bisa melihatnya….” Ibuku terisak.
Lalu melanjutkan kalimatnya.
“Kau
tidak bertemu dengannya. Tapi kau malah mengalami kecelakaan. Hal itu membuat
tim dokter tidak berani mengoperasimu karena luka parah di kepalamu, karena
luka memar di otakmu. Karena semakin dibiarkan berlarut-larut, kanker itu semakin
cepat menyebar di hampir semua bagian otakmu. Itulah yang membuat umurmu
semakin pendek. Lihat ini ! (mengambil rontokan rambut di pundak Hyeojin,
menggenggamnya dan menunjukkan pada Hyeojin.) Lihat ini ! Lihaattt !!
Apakah kau akan tetap berperilaku seperti ini ?? Kau semakin parah ! Kau tahu ?
Harus berapa kali ibu mengatakannya agar kau mengerti. Hah ?”
“Akan
lebih baik jika eomma tidak mengatakannya lagi. Karena itu tidak berpengaruh
apa-apa. Karena sampai Hyeorin mati pun, Hyeorin tidak akan menyesali keputusan
Hyeorin untuk pergi melihat konser itu, meski akhirnya Hyeorin kecelakaan.”
Suasana
hening sejenak. Hanya terdengar isakkan dari ibu.
‘Dan
lagi, dia bukan orang lain eomma, jadi tolong sebut namanya. Dia Jong Dae oppa.
Juga, jangan lagi eomma menyalahkannya. Karena ia tidak salah apa-apa. Ini
adalah permintaan Hyeorin eomma. Jebal !”
“Hyaaaaaaaaaaaa!”
teriak ibu dengan menutup telinganya, menggeleng serta menutup rapat kedua
matanya, sampai ia terjatuh.
Hyeojin
POV
“Ah,
mwoya ? Nuguji ? Jong Dae oppa, nuguseyo ? Bukankah itu teman masa kecil eonni
? Konser ? Ige mwoya ? Kenapa ibu sampai menjatuhkan diri seperti itu. Eotokke
? Haruskah aku menolong ibu sekarang. Tapi, jika aku menolongnya, mungkin
pembicaraan akan berhenti sampai disini. Tetapi jika aku tetap disini beberapa
menit lagi, mungkin aku akan mendapatkan sedikit pencerahan mengenai masalah
kakak.” ucapku di dalam hati.
Author
POV
Ia,
sejak ibunya memulai pembicaraan dengan kakaknya, sudah berdiri di depan pintu
kamar rawat kakaknya. Namun, ia memutuskan untuk tetap berada di sana sampai ia
mendapatkan sedikit clue mengenai masalah yang dialami kakaknya.
Hyeorin
POV
Mendengar
teriakan ibu, aku juga ikut menangis. Tetapi aku tidak mau melihat ibu. Dengan masih
bersimpuh, ibu berkata.
“Bisa-bisanya
kau dalam kondisi seperti ini masih tetap membelanya ? Waeyo Hyeorina ?!!”
“Kenapa
eomma masih bertanya ? Berapa kali Hyeorin harus mengatakannya agar eomma
mengerti ? Hyeorin melakukan semua itu karena Hyeorin mencintainya.”
“Cinta
katamu ? Haach, kereom. Jadi sekarang kau sudah sadar bahwa kau bisa berada di
sini juga karena dia ?”
“Ani
eomma. Ini bukan salah Jong Dae oppa.”
“Hyeorina
!! Jika bukan karena kekeras kepalaanmu mencari keberadaannya setelah kau
mendengar kabar tentangnya bahwa ia ada di Seoul, mungkin kau juga tidak akan
kelelahan seperti ini. Kau tidak akan pulang larut malam hanya untuk mencarinya
3 tahun yang lalu. Kau tidak akan memiliki pola hidup yang buruk jika kau tidak
sibuk mencari informasi tentangnya. Kau juga tidak akan sakit seperti ini jika
kau tidak selalu memikirkannya. Hyaa, Hyeorina. Kau tahu ? Selama kau berusaha
seperti itu, apa dia pernah melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaanmu ?
Hah ?”
Aku
menghela napas panjang. Lalu aku menjawab pertanyaan ibu tanpa melihat ibu.
“Eomma.
Jebal, jangan pernah eomma menyalahkan Jong Dae oppa lagi. Penyakit ini datang
karena ini sudah takdir Hyeorin. Tidak ada sejarah yang mengatakan kanker otak
terjadi karena terlalu memikirkan seseorang ataupun suatu hal. Tidak ada !
Dokter sudah berulang kali menepis pemikiran eomma yang seperti itu ! Penyakit
ini murni penyakit dengan sebab umum yang juga dialami oleh penderita kanker
otak pada umumnya. Bukan karena terlalu banyak beban pikiran.”
“Dan
juga, eomma perlu mengerti kenapa Jong Dae oppa tidak mencariku. Itu semua
karena kesibukannya eomma. Ia datang kemari tidak sama seperti Hyeorin yang
menggantungkan orang tua. Tapi ia datang kemari untuk menghidupi diri, orang
tua dan keluarganya. Itulah kenapa ia bekerja begitu keras, dan tidak ada waktu
mengurusi hal-hal seperti Hyeorin eomma.”
“Hah,
jadi kau sadar bahwa Jong Dae tidak mungkin memikirkanmu, tidak mungkin
mencintaimu lagi ?”
Aku
menangis terisak.
“Geu,..geundae,
aku tetap yakin bahwa Jong Dae oppa masih mencintaiku eomma. Namun, jik,..jika
memang tidak, maka tidak apa. Karena pada akhirnya aku juga akan pergi sebentar
lagi. Aku,….aku hanya ingin dia tahu bahwa…sejak 9 tahun lalu sampai aku mati
nanti, perasaanku tetap sama. Perasaanku masih tetap,…” aku semakin terisak.
Lalu
aku melanjutkan, “…Perasaanku masih tetap miliknya eomma.”
Ibu bangun
dan memegang kedua pundakku. “Hyaa, Hyeorina. Oh Hyeorin ! Ireonna ! Jebal. Waeyo
Hyeorin, wae ? Kenapa kau jadi seperti ini. Ini sudah 9 tahun. Apa kau tidak
lelah bersikap seperti gadis bodoh seperti ini? tidak bisakah kau melupakannya
? Kau tidak mungkin bisa bersamanya. Daripada bertingkah menyedihkan seperti
ini, lebih baik lakukan hal-hal bermanfaat untuk orang-orang yang menyayangimu
sebelum kau pergi. Ibu,..ibu sangat merindukanmu Hyeorina ! ( sifat dan diri
Hyeorin yang periang, sebelum ia pindah ke Seoul.) Jeongmal bogoshipo….neomu
bogoshipo Hyeorina…” Ibu bertanya sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.
“Itu
memang tidak mungkin eomma. Karena Hyeorin akan pergi ! Wae ? Eomma bertanya
mengapa lagi. Eomma,…nan Jong Dae oppa-reul…saranghamnida eomma.” Aku mengatakannya
dengan tatapan mata yang menyiratkan betapa lelahnya diriku, dengan air mata
yang semakin mengalir deras di pipiku.
Ibu melepaskan
tangannya dari pundakku. Ia memegangi mulutnya agar tidak berteriak. Tetapi ia
tidak mampu berdiri ketika melihatku terisak-isak.
Di
saat itulah, Hyeojin masuk dan memapah ibu keluar. Sebelum itu, ia menepuk
pundakku, memberi tanda bahwa ia akan segera kembali.
*****
Author
POV
Hyeorin
yang mengetahui maksud adiknya langsung menganggukkan kepalanya. Tetapi tidak
menghentikkan tangisannya. Meski tidak bersuara karena mulutnya ditutup oleh
telapak tangannya, namun isakkannya sangat memilukan. Melukiskan betapa sakit
hati Hyeorin saat itu.
*****
@ SM
ENTERTAINTMENT
Author
POV
Sudah
2 hari semenjak kegaduhan yang dibuat oleh Beagle Line utama dari EXO di kamar
Lay dan Chen berlalu. Kemarin, semua member boyband yang sedang naik daun ini
berlatih tanpa henti sejak pagi sampai malam. Karena akan banyak jadwal konser
di luar negeri 3 bulan ke depan. Sehingga mereka tidak punya waktu untuk
bersantai.
Hari
ini mereka juga ada jadwal latihan. Tetapi, hanya para lead dancer yang
berlatih serius. Hal ini disebabkan satu member belum kembali setelah kemarin
malam ia meminta izin kepada Manajer untuk pulang. Ia pulang karena ibunya
menjemputnya langsung.
Di ruang
latihan itu, terdengar music Growl tengah diputar.
“Hya,
noe mwoya ? Kenapa kalian tidak latihan.” tanya Chen yang baru datang. Ia
terkejut melihat hanya 3 main dancer yang berlatih koreografi. Sedangkan yang
lainnya tengah duduk melingkar.
Setelah
Chen memperhatikan dengan seksama, ia menyimpulkan bahwa Baekhyun, si mulut
lebar tengah memimpin mereka untuk membicarakan sesuatu.
“Hyaa,
apa yang kalian bicarakan ? Baekhyuna jangan sebarkan virus kepomu itu kepada
yang lain ! Sekarang kita harus latihan.” kata Chen.
“Aku
tidak akan bisa latihan dengan tenang sebelum rasa penasaranku terhadapmu
terjawab Jong Daeya.” sahut Baekhyun.
“Kau
penasaran dengan apa ?” tanya Chen seraya meletakkan ponselnya di meja ponsel
yang tersedia.
“Mangdung….”
Tiba-tiba
terdengar pintu ruang latihan yang modelnya pintu geser, dibuka dengan keras.
Braaakk.
“Hyyaaa,
Jong Daeya, noe micheseo ?” teriak 2 manajer yang paling terkenal di antara 6
manajer EXO dan juga fans EXO sendiri. Karena mereka tampan dan juga sangat
stylish, hampir menyamai artisnya. Mereka adalah Im Hyun Kyun Manajer EXO M dan
Lee Seung Hwan Manajer EXO K. Mereka berdua mengagetkan semua member.
Semua
memandang kedua manajer mereka dengan bertanya-tanya.
“Wae
gereoyo Hyungnim ?” tanya Suho.
“Ani,
Jong Dae eodiyo ?” tanya Im Hyun Kyun dengan terburu-buru.
“Aku
disini Manajer Hyung. Waeyo ?”
Baik
Lee Sung Hwan ataupun Im Hyun Kyun langsung menghampiri Chen.
“Hyya,
mwoji ?! mworago ? Apa yang kau katakan 2 hari lalu di talkshow. Noe micheoseo
? Hya, apa kau tahu sejak tadi malam, SNSku penuh dengan celotehan fansmu, fans
kalian. Lalu apa yang harus aku katakan kepada mereka ? Eotokke ?” bentak Im
Hyun Kyun.
Chen
terdiam sebentar, seperti tengah mengingat-ingat sesuatu. Setelah itu ia
berucap dengan nada sedikit menyesal, pelan. “Mianhamnida hyung.” Chen
tertunduk.
“Mworago
? Mian ? Hya ! Bukankah kau sudah tahu kalau Manajemen sendiri sudah membuat
larangan untuk tidak P-A-C-A-R-A-N dengan siapapun. Tidak terikat hubungan
khusus dengan orang lain, baik itu artis ataupun tidak…..Achhh, chinca….Hyaa,
apa kau tidak berpikir apa yang akan terjadi pada gadis itu jika wartawan
berhasil menemukannya ? Hah ?”
“Mianhamnida
hyung. Tapi, aku yakin ia tidak akan apa-apa. Karena aku hanya mengatakan nama
panggilannya saja. Wartawan tidak akan bisa menemukannya.” Chen mengatakannya
dengan tetap tertunduk.
“Hya,
apa kau tidak tahu betapa pintarnya wartawan jaman sekarang? apa kau tidak tahu
betapa gilanya wartawan sekarang ? Kalaupun gadis itu aman, lalu apa yang akan
terjadi padamu ? Ini semua akan membahayakanmu !” tanya Im Hyun Kyun lagi.
“Nan
arayo hyung.”
“Lalu
apa yang akan kau katakan jika ada yang bertanya padamu ?” tambah Im Hyun Kyun.
“Aku
hanya akan mengatakan bahwa ia adalah,…” Chen berhenti sejenak.
“Mwo
? Mantan kekasihmu di Middle School ? Dan sekarang kalian sudah tidak lagi
bertemu. Begitu?” tanya Im Hyun kesal.
Chen
tertunduk semakin dalam. “Ne, majayo hyungnim.”
Im
Hyun Kyun terbelalak, ia terkejut.
Karena
mengetahui bahwa kawannya sudah berada di ujung kemarahan, akhirnya Lee Seung
Hwan, Manajer EXO K mencoba menenangkan Im Hyun. Ia pun mengambil alih tugas Im
Hyun untuk menasehati Chen.
Lee
Seung Hwan menghembuskan napas kesal. “Apa kau masih anak-anak? Apa kau masih
belum mengerti siapa kau sekarang ? Kenapa kau masih berpikir sesederhana itu ?
…. Huft, Ingat! setiap kata-katamu yang terdengar sedikit aneh di depan
wartawan akan menimbulkan gosip yang berbeda. Dan itu akan membahayakan orang
yang tersangkut di dalamnya, juga karirmu sendiri. Jadi berhati-hatilah di
setiap acara broadcast. Jangan lagi hal seperti ini ketahuan wartawan. Algesheo
?”
“Algesheomnida
hyungnim. Mianhamnida.”
Kedua
manajer menuju pintu. Lee Seung Hwan tetap mencoba menenangkan Im Hyun yang
tidak berhenti mengomel. “Ach,.. tidak seharusnya aku memilih istirahat
kemarin. Tidak seharusnya aku membiarkanmu pergi dengan Yongmin ke acara itu,….
tanpa diriku. Bagaimana bisa kau berbicara tanpa pikir panjang seperti itu ??…..”
Ia berhenti sejenak dan berusaha memarahi Chen lagi. Namun, Seung Hwan berusaha
menenangkannya kembali.
“Kau
tidak pernah membuat masalah di China, tapi kenapa disini kau seperti ini ??? Huft.
Aigo ! Eotokke ? Berita apa yang harus aku buat jika hal ini bertambah besar? Beritamu
dengan adik Kyung Soo di jejaring sosial saja belum selesai Jong Daeya !!!
Meski itu karena ulah adik Kyung Soo, tapi hal itu sudah tertangkap wartawan,
entah mereka akan membesar-besarkannya atau tidak. Sekarang ada lagi….”
Ia
berhenti dan menatap Chen kembali, sambil berkacak pinggang.
“Hyaa
! Noe ara ? Karena ulahmu, kami ber-enam dimarahi oleh Soo Man sunbae. Jadi,
PUTUSKAN kekasihmu itu sekarang juga ! Kalau tid…”
Seung
Hwan memotong kata-kata Im Hyun.
“Hyaa!!!
Kkemanera ! Ini bukan sepenuhnya salah Jong Dae ! Lagipula ini sudah sangat
terlanjur….mereka sudah pacaran sejak mereka kecil. Kau ingat, kan ? Kau tahu
kan betapa sulitnya memutus hubungan yang sudah selama itu ?! Yang penting kita,
kau dan aku selalu mengawasi mereka maka tidak akan ada masalah. Hm ?”
“Aish
!!! Noe chinca. Kalian ini benar-benar.” Ia kesal dan kembali berjalan menuju
pintu. Namun, ia berhenti sebentar dan melihat anak-anaknya. “Hyaaa, kenapa
kalian melihat kami ?! Kenapa tidak latihan ?” bentaknya.
“Uuch,
Ne Manajer hyung !” sahut mereka serempak sambil berdiri bersamaan dan
memberikan salam ketika manajer mereka pergi dengan raut wajah kesal.
Suasana
hening sejenak. Lalu, Baekhyun yang paling tidak tahan dengan kesunyian pun
mencairkan suasana.
“Mwo
? Mantan kekasih di Middle School ? Omo, bagaimana hal seperti ini tidak pernah
kau ceritakan Chena ?”
Chen
hanya menanggapi dengan senyum kecutnya. Iapun berjalan ke keranjang air
mineral dan mengambil sebotol lalu meminumnya.
“Aku
tidak bisa mempercayai orang sepertimu Baekhyuna. Itulah kenapa aku tidak
cerita padamu.”
“Ach,
changkkamaneyo. Jika ia kekasih Chen di Middle School, lalu bagaimana dengan
adik Kyung Soo. Talkshow itu sudah di siarkan kemarin malam, dan kemarin malam
juga Kyung Soo dijemput ibunya untuk pulang sebentar. Soelma,….” Chanyeol
menimpali dengan kata-kata yang menyerupai seorang detektif.
“Yaha,
gereoji. Do Kyung Soo diminta pulang oleh ibunya untuk menenangkan adiknya, Do
Seung Soo yang menangis parah karena acara semalam. Yaha, Hyaaa, Chena ! Kau
harus bertanggung jawab !” Baekhyun dengan semangat berbicara sambil mendekati
Chen.
“Naega
wae ?” tanya Chen sambil duduk di samping Xiumin.
“Hyaaa!!
Kau yang membuat adik Kyung Soo menangis. Kau kan tahu betapa Seung Soo sangat
menyukaimu. Lalu, bagaimana bisa kau bicara seperti itu di talkshow. Apa kau
tidak berpikir ia akan sakit hati jika mengetahuinya ?” sahut Chanyeol.
Suasana
hening sebentar.
Namun,
tiba-tiba Sehun mengagetkan hyung-hyungnya. “Hyyaaaa!!! Hyung, hyung. Kalau ceritanya
seperti itu, bukankah Seung Soo akan sakit hati dan menangis. Dia kan sangat
menyukaimu, hyung ?”
“Hyya,
noe mwoya ? Kau merusak koreografi kita ? Kau selalu merusak di tengah-tengah!”
teriak Kai pada Sehun yang seketika langsung menghentikan dancenya juga.
“Chinca?
ah mian. Ssst,ssst,ssst.” Sehun tertawa sambil menjulur-julurkan lidahnya.
“Lagipula ceritanya seru. Apa kau tidak ingin tahu ?” tanyanya pada Kai.
“Aku
ingin tahu, tapi kan tidak dengan mendadak menghentikan gerakanmu. Aku jadi
ikut berhenti. ” Ia menggerutu sambil mengambil air minum dan duduk di sebelah
Sehun.
“Hyaaaa,
Sehuna, kita sudah membicarakannya dari tadi. Kenapa kau baru bertanya hal yang
sama sekarang ?” timpal Baekhyun dengan kesal. Sehun hanya membalasnya dengan
tawa kecil dan wajah innocentnya. “Hya, Chena, otte ? Bagaimana dengan Seung
Soo ? Bukankah kau juga menyukainya ?”
“Dia
tidak menyukainya Hyung !” sahut Sehun dan Kai bersamaan.
“Diam
anak kecil ! Kalian tahu dari mana ?” Baekhyun mencibir Sehun dan Kai.
“Otte
Chena ? Jika kau tidak menyukainya, lalu kenapa kau memenuhi permintaannya
untuk jalan bersama beberapa kali, hoh ?” goda Chanyeol dengan ekspresi ingin
tahu.
Suasana
kembali hening. Semua mata kini tertuju pada Chen, mengharapkan jawabannya.
Setelah
menyadarinya, Chenpun langsung berkata, “Noe mwoya jigeum ? Nan anchoanttagu.
Aku hanya menganggapnya sebagai adik saja. Aku menurutinya, karena ibunya
meminta padaku. Katanya Seung Soo tidak mau makan karena aku sering menolak
permintaannya untuk jalan denganku. Jadi aku akhirnya mengalah, karena aku merasa
tidak enak pada Kyung Soo dan ibunya. Lagipula dia 5 tahun lebih muda dariku. Dia
masih kecil. Itu pasti hanya perasaan suka biasa. Dia tidak mungkin benar-benar
mencintaiku.” jawab Chen kemudian.
“Jika
kau meragukan perasaannya, apa kau juga pernah meragukan perasaanmu dulu ?
Bukankah kau juga menyukai Mangdungeo sejak kau masih berusia 12 tahun ? kau
bahkan lebih kecil dari Seung Soo saat itu !” ejek Luhan tiba-tiba.
“Hyung,
mwoya ? Aku menyukai Seung Soo hanya sebagai adikku saja, tidak lebih.”
“Noe
chinca Chena. Jika kau menganggapnya adik, kenapa kau tidak pernah bilang
padaku ? Tahukah kau betapa sulit aku menghentikannya menangis ?” sahut DO yang
baru datang, dan ia juga ikut duduk di sebelah Luhan dengan raut wajah lelah.
“Whoaaah,
daebangida ! Pertarungan antara kakak dan calon adik ipar akan segera dimulai.
Tinggggg!” celoteh Baekhyun. Seketika semua member tertawa kecil. Namun Suho
memukul pundak Baekhyun, menyuruhnya diam.
“Hyaaa.
Hajima !” sergah Chen pada Baekhyun. “Bukan seperti itu Kyung Sooya. Mian. Kau
baru mengetahuinya sekarang. Tapi, memang. Aku tidak memiliki perasaan apapun
pada Seung Soo, aku hanya menganggapnya sebagai adik saja.”
DO
tertawa kecil melihat ekspresi wajah Chen yang memelas. “Arayo Chena. Aku hanya
bercanda. Tapi, sebagai gantinya,…kau harus menceritakan kepada kami siapa itu
Mangdungeo. Kau harus menebus kesalahanmu karena tidak pernah menceritakannya
pada kami. Kau tahu, aku lelah karena semalaman aku tidak tidur hanya untuk
menenangkan Seung Soo. Kau harus membayar itu semua.”
“Hah,
neo ?” tersenyum lega. “Arasheo,arasheo. Aku akan memberitahu kalian.”
Ketika
semuanya sudah duduk tenang, dan mengambil posisi paling PW untuk mendengarkan
cerita Chen, tiba-tiba Lay yang dari tadi belum berhenti berlatih dance
mengagetkan mereka.
“Hyaaaaaaaaaa!!!
Lihatlah mereka, nuguji ? Bukankah mereka wartawan ? Mereka memasuki gedung
ini. Mereka banyak sekali. Bukankah SM sedang tidak ada acara apapun ? Waeyo ?”
teriaknya. Semua member saling tukar pandang.
“Jeongmaleyo
?” cercah Baekhyun dengan melebarkan mata sipitnya. “Woaaah, daebangida. Cepat
sekali ? Kita memang sudah populer ya sekarang ? Dicolek sedikit saja, mereka
sudah datang. Yahaaaa!!!” sahut Baekhyun yang langsung melihat ke luar jendela
sambil meliuk-liukkan badannya dengan senang, diikuti member lain.
Ruang
latihan mereka yang berada di lantai atas membuat mereka bisa melihat dengan
jelas apa yang terjadi di gedung bawah.
Ketika
member lain tengah berkerumun di jendela, Chen dan DO hanya berdiam diri. Tetap
dalam posisi duduk, namun saling tukar pandang satu sama lain. Dalam diam,
jantung Chen berdegup semakin cepat.
BSMB~~~~~~~~~ :) :D
:p > BPT ♀